Ringkasan Hukum Pidana
A. Istilah dan Pengertian
Pidana berasal kata straf
(Belanda), yang adakalanya disebut dengan istilah hukuman. Istilah pidana lebih
tepat dari istilah hukuman karena hukum sudah lazim merupakan terjemahan dari recht.
Dapat dikatakan istilah pidana dalam arti sempit adalah berkaitan dengan
hukum pidana
Pidana lebih tepat didefinisikan
sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan/diberikan oleh negara pada
seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginya atas
perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana. Secara khusus larangan
dalam hukum pidana ini disebut sebagai tindak pidana (strafbaar feit).
Selanjutnya istilah hukum pidana
dalam bahasa Belanda adalah Strafrecht sedangkan dalam bahasa Inggris
adalah Criminal Law.
Adapun pengertian hukum pidana
dibawah menurut pendapat para ahli sebagai berikut :
- SIMONS, hukum pidana adalah
keseluruhan larangan-larangan dan keharusan yang pelanggaran terhadapnya
dikaitkan dengan suatu nestapa (pidana/hukuman) oleh negara, keseluruhan
aturan tentang syarat, cara menjatuhkan dan menjalankan pidana tersebut.
- MOELJATNO, hukum pidana adalah
aturan yang menentukan :
- Perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dilarang, serta ancaman
sanksi bagi yang melanggarnya
- Kapan dan dalam hal apa kepada pelanggar dapat dijatuhi pidana
- Cara pengenaan pidana kepada pelanggar tesebut dilaksanakan
- Wirjono Prodjodikoro, hukum
pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata “pidana” berarti hal
yang “dipidanakan” yaitu oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seorang
oknum sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak
sehari-hari dilimpahkan.
- WLG. LEMAIRE, hukum pidana itu
terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan-keharusan dan
larangan-larangan yang (oleh pembentuk UU) telah dikaitkan dengan suatu
sanksi berupa hukuman yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan
demikian dapat juga dikatakan bahwa hukum pidana itu merupakan suatu
sistem norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu
keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana
hukuman itu dapat dijatuhkan serta hukuman yang bagaimana yang dapat
dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut. (pengertian ini nampaknya dalam
arti hukum pidana materil).
- WFC. HATTUM, hukum pidana
(positif) adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturan-peraturan
yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya, dimana
mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang
dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah
mengaitkan pelanggaran terhadap peaturan-peraturannya denagan suatu
penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman.
- WPJ. POMPE, hukum pidana
adalah hukum pidana itu sama halnya dengan hukum tata negara, hukum
perdata dan lain-lain bagian dari hukum, biasanya diartikan sebagai suatu
keseluruhan dari peraturan-peraturan yang sedikit banyak bersifat umum
yang abstrahir dari keadaan-keadaan yang bersifat konkret.
- KANSIL, hukum pidana adalah
hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan
kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam
dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan.
- ADAMI CHAZAWI, dilihat dari
garis besarnya, dengan berpijak pada kodifikasi sebagai sumber utama atau
sumber pokok hukum pidana, hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik
yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang :
- Aturan-aturan hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan
denagan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif) maupun
pasif/negatif) tertentu yang diserti dengan ancaman sanksi berupa pidana
(straf) bagi yang melanggar larangan itu.
- Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada
bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkanya sanksi pidana yang diancamkan
pada larangan perbuatan yang dilanggarnya.
- Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara
melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim),
terhadap yang disangka dan di dakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam
rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana
terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus
dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi
dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya negara
menegakkan hukum pidana tersebut.
Berpijak dalam garis besarnya,
dengan berpijak pada kodifikasi sebagai sumber utama atau sumber pokok hukum
pidan, hukum pidana merupakan bagi dari hukum publik yang memuat/berisi
ketentuan-ketentuan tentang :
- Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan
dengan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/posiitif) maupun
pasf/negatif) tertentu yang disertai denagan ancaman sanksi pidana (straf)
bagi yang melanggar larangan itu.
- Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada
bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang diancamkan
pada larangan perbuatan yang dilanggarnya.
- Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara
melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim),
terhadap yang disangka dan didakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam
rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana
terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus
dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha
melindungi dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya
negara menegakkan hukum pidana tersebut
B. Tujuan Hukum Pidana
Ada dua macam :
- Untuk menakut-nakuti setiap orang agar mereka tidak melakukan
perbuatan pidana (fungsi preventif)
- Untuk mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang
tergolong perbuatan pidana agar mereka menjadi orang yang baik dan dapat
diterima kembali dalam masyarakat (fungsi represif).
Jadi dapat disimpulkan tujuan
hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat.
Menurut para ahli tujuan hukum
pidana adalah :
- Memenuhi rasa keadilan (WIRJONO PRODJODIKORO)
- Melindungi masyarakat (social defence) (TIRTA AMIDJAJA)
- Melindungi kepentingan individu (HAM) dan kepentingan
masyarakat dengan negara ( (KANTER DAN SIANTURI)
- Menyelesaikan konflik (BARDA .N)
Tujuan Pidana (Menurut literatur
Inggris R3D) :
- Reformation, yaitu memperbaiki atau merehabilitasi penjahat
menjadi orang baik dan berguna bagi masyarakat. Namun ini tidak menjamin
karena masih banyak juga residivis.
- Restraint, yaitu mengasingkan pelanggar dari masyarakat
sehingga timbul rasa aman masyarakat
- Retribution, yaitu pembalasan terhadap pelanggar karena telah
melakukan kejahatan
- Deterrence, yaitu menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa
sebagai individual maupun orang lain yang potensi menjadi penjahat akan
jera atau takut untuk melakukankejahatan, melihat pidana yang dijatuhkan kepada
terdakwa.
C. Fungsi Hukum Pidana
Sebagai hukum publik hukum pidana
memiliki fungsi sebagai berikut :
- Fungsi melindungi kepentingan hukum dari perbuatan yang
menyerang atau memperkosanya.
Kepentingan hukum (rechtsbelang)
adalah segala kepentingan yang diperlukan dalam berbagai segi kehidupan manusia
baik sebagai pribadi, anggot masyarakat, maupun anggota suatu negara, yang
wajib dijaga dan dipertahankan agar tidak dilanggar/diperkosa oleh
perbuatan-perbuatan manusia. Semua ini ditujukan untuk terlaksana dan
terjaminnya ketertiban di dalam segala bidang kehidupan.
Di dalam doktrin hukum pidana
Jerman, kepentingan hukum (rechtsgut) itu meliputi (Satochid Kartanegara) :
- Hak-hak (rechten)
- Hubungan hukum (rechtsbetrekking)
- Keadaan hukum (rechtstoestand)
- Bangunan masyarakat (sociale instellingen)
Kepentingan hukum yang wajib
dilindungi itu ada tiga macam yaitu :
- Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen) misalnya
kepentingan hukum terhadap hak hidup (nyawa), kepentingan hukum atas
tubuh, kepentingan hukum akan hak milik benda, kepentingan hukum terhadap
harga diri dan nama baik, kepentingan hukum terhadap rasa susila, dsb.
- Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschapppelijke
belangen), misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban
umum, ketertiban berlalu lintas di jalan raya, dsb.
- Kepentingan hukum negara (staatsbelangen), misalnya kepentingan
hukum terhadap keamanan dan keselamatan negara, kepentingan hukum terhadap
negara-negara sahabat, kepentingan hukum terhadap martabat kepala negara
dan wakilnya, dsb.
Ketiga kepentingan hukum diatas
saling berkait dan tidak bisa dipisahkan. Contoh kepetingan hukum yang diatur
dalam hukum pidana materil (KUHP) larangan mencuri (pasal 362), larangan
menghilangkan nyawa (pasal 338). Pasal 363 melindungi dan mempertahankan
kepentingan hukum orang atas hak milik kebendaan pribadi dan pasal 338 adalah
melindungi dan mempertahankan kepentingan hukum terhadap hak individu/nyawa
orang. Untuk melindung kepentingan hukum diatas adalah melalui sanksi pidana/straf
(hukuman penjara). Misalnya pasal 362 KUHP dapat diancam hukuman penjara
maksimum 5 tahun dan pasal 338 dapat diancam hukuman penjara maksimum 15
tahun, dsb.
- Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara
menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi.
Fungsi hukum pidana yang dimaksud
disini adalah adalah tiada lain memberi dasar legitimasi bagi negara agar
negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan melindungi kepentingan hukum
yang dilindungi oleh hukum pidana tadi dengan sebaik-baiknya. Fungsi ini
terutama terdapat dalam hukum acara pidana, yang telah dikodifikasikan dengan
apa yang disebut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yakni UU No. 8
tahun 1981. Dalam hukum acara pidana telah diatur sedemikian rupa tentang apa
yang dapat dilakukan negara dan bagaimana cara negara mempertahankan
kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana. Misalnya bagaimana cara
negara melakukan tindakan-tindakan hukum terhadap terjadinya tindak pidana
seperti melakukan penangkapan, penahanan, penuntutan, pemeriksaan, vonis, dll.
Semua tindakan negara diatas tentu berakibat tidak menyenangkan bagi siapa
saja. Namun atas dasar kepentingan hukum dan negara tindakan negara tersebut
dibenarkan, melalui prosedur KUHAP diatas.
- Fungsi mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka
negara menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang
dilindungi.
Sebagaimana diketahui bahwa fungsi
hukum pidana yang kedua diatas adalah hukum pidana telah memberikan hak dan
kekuasaan yang sangat besar pada negara agar dapat menjalankan fungsi
mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi dengan sebaik-baiknya. Namun
demikian atas kekuasaan negara diatas harus dibatasi. Walaupun pada dasarnya
adanya hukum pidana untuk melindungi kepentingan hukum yang dlindungi. Namun
tentunya pembatasan kekuasaan itu penting agar negara tidak melakukan
sewenang-wenang kepada masyarakat dan pribadi manusia. Pengaturan hak dan
kewajiban negara dengan sebaik-baiknya dalam rangka negara menjalankan fungsi
mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi yang secara umum dapat disebut
mempertahankan dan menyelenggarakan ketertiban hukum masyarakat itu, menjadi
wajib. Adanya KUHP dan KUHAP sebagai hukum pidana materi dan formil dalam
rangka mempertahankan kepentingan hukum masyarakat yang dilindungi pada sisi
sebagai alat untuk melakukan tindakan hukum oleh negara apabila terjadi
pelanggaran hukum pidana, pada sisi lain sebagai alat pembatasan negara dalam
setiap melakukan tindakan hukum. Misalnya jika seseorang membunuh (pasal 338
KUHP) negara tidak boleh menghukum melebihi ancaman maksimum 15 tahun. Begitu
juga ketika negara menahan seseorang ada batas masa penahanan misalnya penyidik
hanya selama 20 hari. Jika ketentuan diatas dilanggar oleh negara maka akan
terjadi kesewenangan. Dengan demikian masyarakat sendiri dirugikan. Jika akibat
suatu tindakan negara justru merugikan masyarakat, maka tujuan dan fungsi hukum
pidana tersebut tidak tercapai. Tujuan hukum untuk kebenaran dan keadilan hanya
semboyan saja.
D. Sumber Hukum Pidana
- Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) dan penjelasan = MVT yang
terdiri dari buku I tentang aturan umum, buku II tentang kejahatan dan
buku III tentang pelanggaran
- Undang-undang di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana
- Undang-undang Tindak Pidana Korupsi
- Undang-undang Tindak Pidana Terorisme (UU No. 15 tahun 2003)
- Undang-undang Pidana Pencucian Uang (UU No. 15 tahun 2002)
- Undang-undang Tindak Pidana Ekonomi (UU DRT No. 7 tahun 1955
dan UU No. 8 tahun 1958, PP No. 1 tahun 1960)
- Undang-undang Narkotika dan Undang-undang Psikotropika ( UU No.
22 tahun 1997 tentang Narkotika dan UU No. 5 tahun 1997 tentang
Psikotropika
3. Hukum Adat (Pasal 5
ayat 3 (b) UU Darurat No. 1 tahun 1951 yaitu berbunyi :
“Hukum materiil sipil dan untuk
sementara waktu pun hukum materiil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk
kaula-kaula daerah Swapraja dan orangorang yang dahulu diadili oleh Pengadilan
Adat, ada tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang itu, dengan pengertian :
- bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus
dianggap perbuatan pidana, akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum
Pidana Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari
tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah, yaitu sebagai hukuman
pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak
terhukum dan penggantian yang dimaksud dianggap sepadan oleh hakim dengan
besar kesalahan yang terhukum,
- bahwa, bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut
fikiran hakim melampaui padanya dengan hukuman kurungan atau denda yang
dimaksud di atas, maka atas kesalahan terdakwa dapat dikenakan hukumannya
pengganti setinggi 10 tahun penjara, dengan pengertian bahwa hukuman adat
yang menurut faham hakim tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa mesti
diganti seperti tersebut di atas, dan
- bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus
dianggap perbuatan pidana dan yang ada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana
Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman yang sama dengan hukuman bandingnya
yang paling mirip kepada perbuatan pidana itu”.
E. Aliran-aliran dalam Hukum
Pidana
Salah satu masalah pokok hukum
pidana adalah mengenai konsep tujuan pemidanaan dan untuk mengetahui secara
komprehensif mengenai tujuan pemidanaan ini harus dikaitkan dengan
aliran-aliran dalam hukum pidana. Aliran-aliran tersebut adalah aliran klasik,
aliran modern (aliran positif) dan aliran neo klasik (sosiologis). Perbedaaan
aliran klasik, modern dan neo klasik atas karakteristik masing-masing erat
sekali hubungannya dengan keadaan pada zaman pertumbuhan aliran-aliran
tersebut.
- Aliran klasik
Aliran yang muncul pada abad ke-18
merupakan respon dari ancietn regime di Perancis dan Inggris yang
banyak menimbulkan ketidakpastian hukum, ketidaksamaan hukum dan ketidakadilan.
Aliran ini berfaham indeterminisme mengenai kebebasan kehendak (free will)
manusia yang menekankan pada perbuatan pelaku kejahatan sehingga dikehendakilah
hukum pidana perbuatan (daad-strefrecht). Aliran klasik pada
prinsipnya hanya menganut single track system berupa sanksi tunggal,
yaitu sanksi pidana. Aliran ini juga bersifat retributif dan represif terhadap
tindak pidana karena tema aliran klasik ini, sebagaimana dinyatakan oleh
Beccarian adalah doktrin pidana harus sesuai dengan kejahatan. Sebagai
konsekuensinya, hukum harus dirumuskan dengan jelas dan tidak memberikan
kemungkinan bagi hakim untuk melakukan penafsiran. Hakim hanya merupakan alat
undang-undang yang hanya menentukan salah atau tidaknya seseorang dan kemudian
menentukan pidana. Undang-undang menjadi kaku dan terstruktur. Aliran klasik
ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
- Definisi hukum dari kejahatan
- Pidana harus sesuai dengan kejahatannya
- Doktrin kebebasan berkehendak
- Pidana mati untuk beberapa tindak pidana
- Tidak ada riset empiris; dan
- Pidana yang ditentukan secara pasti.
Tokoh dalam aliran klasik ini
adalah Cesare Beccaria dan Jeremi Bentham. Beccaria meyakini konsep kontrak
sosial dimana individu menyerahkan kebebasan atau kemerdekaannya secukupnya
kepada negara dan oleh karenanya hukum harusnya hanya ada untuk melindungi dan
mempertahankan keseluruhan kemerdekaan yang dikorbankan terhadap persamaan
kemerdekaan yang dilakukan oleh orang lain. Prinsip dasar yang digunakan
sebagai pedoman adalah kebahagiaan yang terbesar untuk orang
sebanyak-banyaknya. Sementara Jeremy Bentham melihat suatu prinsip baru yaitu utilitarian
yang menyatakan bahwa suatu perbuatan tidak dinilai dengan sistem yang
irrasional yang absolut, tetapi melalui prinsip-prinsip yang dapat diukur.
Bentham menyatakan bahwa hukum pidana jangan dijadikan sarana pembalasan tetapi
untuk mencegah kejahatan.
- Aliran Modern atau aliran positif
Aliran ini muncul pada abad ke-19
yang bertitik tolak pada aliran determinisme yang menggantikan doktrin
kebebasan berkehendak (the doctrine of free will). Manusia dipandang
tidak mempunyai kebebasan berkehendak, tetapi dipengaruhi oleh watak
lingkungannya, sehingga dia tidak dapat dipersalahkan atau
dipertanggungjawabkan dan dipidana. Aliran ini menolak pandangan pembalasan
berdasarkan kesalahan yang subyektif. Aliran ini menghendaki adanya
individualisasi pidana yang bertujuan untuk mengadakan resosialisasi pelaku.
Aliran ini menyatakan bahwa sistem hukum pidana, tindak pidana sebagai
perbuatan yang diancam pidana oleh undang-undang, penilaian hakim yang
didasarkan pada konteks hukum yang murni atau sanksi pidana itu sendiri harus
tetap dipertahankan. Hanya saja dalam menggunakan hukum pidana, aliran ini
menolak penggunaan fiksi-fiksi yuridis dan teknik-teknik yuridis yang terlepas dari
kenyataan sosial. Marc Ancel, salah satu tokoh aliran modern menyatakan bahwa
kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial yang tidak mudah
begitu saja dimasukkan ke dalam perumusan undang-undang.
Ciri-ciri aliran modern adalah
sebagai berikut :
- Menolak definisi hukum dari kejahatan
- Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana
- Doktrin determinisme
- Penghapusan pidana mati
- Riset empiris; dan
- Pidana yang tidak ditentukan secara pasti.
Marc Ancel mempelopori gerakan
perlindungan masyarakat baru (new social defence) yang bertujuan
mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi perlindungan masyarakat ke dalam
konsepsi baru hukum pidana. Tokoh-tokoh lain yang merupakan pelopor aliran
modern adalah Cesare Lambroso, Enrico Ferri dan Raffaele Garofalo. Lambroso
menganjurkan bahwa pidana tidak ditetapkan secara pasti oleh pengadilan (the
indeterminate sentence), pidana mati merupakan seleksi terakhir yang
bilamana penjara pembuangan dan kerja keras, penjahat tetap mengulangi
kejahatan yang mengancam masyarakat dan korban kejahatan harus diberi
kompensasi atas kerugian yang diakibatkan oleh penjahat dan ia memberi tekanan
yang besar pada pencegahan kejahatan. Gorofalo mengusulkan konsep kejahatan
natural (natural crime) yang merupakan pengertian paling jelas untuk
menggambarkan perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakat beradab diakui sebagai
kejahatan dan ditekan melalui sarana berupa pidana. Ferri menyatakan bahwa
seseorang memiliki kecenderungan bawaan menuju kejahatan tetapi bilamana ia
mempunyai lingkungan yang baik maka ia akan hidup terus tanpa melanggar pidana
ataupun hukum moral, kejahatan terutama dihasilkan oleh tipe masyarakat
darimana kejahatan itu datang, oleh karena itu pembuat undang-undang harus
selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi, moral, administrasi dan politik
di dalam tugasnya sehari-hari, dan kejahatan hanya dapat diatasi dengan
mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat.
- Aliran neo klasik (sosiologis)
Aliran ini muncul pada abad ke-19
mempunyai basis yang sama dengan aliran klasik, yakni kepercayaan pada
kebebasan berkehendak manusia. Aliran ini beranggapan bahwa pidana yang
dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat kemanusiaan
yang berkembang pada saat itu. Perbaikan dalam aliran neo klasik ini didasarkan
pada beberapa kebijakan peradilan dengan merumuskan pidana minimum dan maksimum
dan mengakui asas-asas tentang keadaan yang meringankan (principle of
extenuating circumtances). Perbaikan selanjutnya adalah banyak kebijakan
peradilan yang berdasarkan keadaaan-keadaan obyektif. Aliran ini mulai
mempertimbangkan kebutuhan adanya pembinaan individual dari pelaku tindak
pidana.
Karakteristik aliran neo klasik
adalah sebagai berikut :
- Modifikasi dari doktrin kebebasan berkehendak, yang dapat
dipengaruhi oleh patologi, ketidakmampuan, penyakit jiwa dan
keadaan-keadaan lain;
- Diterima berlakunya keadaan-keadaan yang meringankan;
- Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban untuk mengadakan
peringatan pemidanaan, dengan kemungkinan adanya pertanggungjawaban
sebagian di dalam kasus-kasus tertentu, seperti penyakit jiwa usia dan
keadaan-keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan kehendak
seseorang pada saat terjadinya kejahatan; dan;
- Masuknya kesaksian ahli di dalam acara peradilan guna
menentukan derajat pertanggungjawaban.
Determinisme dan
Indeterminisme
- Dualisme istilah ini berkisar pada pesoalan, apakah seorang
manusia pada hakikatnya adalah bebas dari pengaruh (indeterminisme) atau
justru selalu terpengaruh oleh kekuatan dari luar (determinisme)
- Kata “determiner” dalam bahasa Prancis bahkan berarti
“menentukan”
- Determinisme adalah bahwa kekuatan menentukan dari luar itu
adalah termasuk tabiat atau watak dari seorang dan alasan yg mendorong
orang itu untuk pada akhirnya mempunyai kehendak tertentu itu, dan kekuatan2
ini didorong pula oleh keadaan dalam masyarakat tempat orang itu hidup.
Jadi kehendak melakukan perbuatan pidana menurut determinisme dikarenakan
kehendak itu selalu ditentukan oleh kekuatan itu.
- Sedangkan indeterminisme seseorang melakukan suatu kejahatan,
menurut faham indeterminisme dianggap mempunyai kehendak untuk itu,
mungkin tanpa dipengaruhi kekuatan2 luar tersebut diatas.
E. Sejarah Hukum Pidana Indonesia
De Nederlander, die over zeen
en oceanen baan koos naar de koloniale gebieden, nam zijn eigenrecht mee (orang-orang Belanda yang berada diseberang lautan dan samudera
luas memiliki jalan untuk menetap di tanah-tanah jajahannya membawa hukumannya
sendiri untuk berlaku baginya).
Demikian kalimat pertama yang
dikatakan oleh Prof. Mr. J.E Jonkers dalam buku karangannya Het
Nederlandch-Indiche Strafstelsel yang diterbitkan pada tahun 1940
Maka, pada zaman penjajahan
Belanda di Indonesia sejak semula terdapat dualisme dalam perundang-undangan.
Ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orang-orang Belanda dan
orang-orang Eropa lainnya yang merupakan jiplakan apa adanya dari hukum yang
berlaku di Belanda dan ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk
orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur Asing (Cina, Arab, dan
India/Pakiskan).
Dualisme ini mula-mula juga ada
dalam hukum pidana. Untuk orang-orang Eropa, berlaku suatu kitab undang-undang
hukum pidana tersendiri, trmuat dalam Firman raja Belanda tanggal 10 Februari
1866 No. 54 (staatblad 1866 No. 55) yang mulai berlaku pada tanggal 1 januari
1867. Sedangkan untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur Asing berlaku
suatu kitab undang-undang hukum pidana tersendiri termuat dalam Ordonantie
tanggal 6 Mei 1872 (staatblad 1872 No. 85 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari
1873.
Seperti pada waktu itu di Belanda,
kedua kitab undnag-undang hukum pidana di Indonesia ini adalah jiplakan dari
Code Penal dari Prancis yang oleh Kaisar Napoleon dinyatakan berlaku di Belanda
ketika negara itu ditaklukan oleh napoleon pada permulaan abad 19.
Pada tahun 1881 di Belanda
dibentuk dan mulai berlaku pad atahun 1886 suatu kitab undang-undang hukum
pidana baru yang bersifat nasional dan yang sebagian besar mencontoh kitab
undang-undang hukum pidana di Jerman.
Sikap semacam ini bagi Indonesia
baru diturut denagan dibentuknya kitab undang-undang hukum pidana baru (Wetboek
van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie) dengan Firman raja Belanda tanggal
15 Oktober 1915, mulai berlaku 1 Januari 1918, yang sekaligus menggantikan
kedua kitab undang-undang hukum pidana tersebut yang diberlakukan bagi semua
penduduk di Indonesia.
Dengan demikian, diakhiri dualisme
dari hukum pidana di Indonesia, mula-mula hanya untuk daerah-daerah yang
langsung dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, kemudian untuk seleuruh
Indonesia.
KUHP ini ketika mulai berlakunya
disertai oleh “invoeringsverordening” berupa Firman raja Belanda
tanggal 4 Mei 1917 (Staatblad 1917 No. 497) yang mengatur secara terinci
peralihan dari hukum pidana lama kepada hukum pidana baru.
Tidak kurang dari 277
undang-undang yang memuat peraturan hukum pidana di laur kedua kitab
undnag-undang hukum pidana, ditetapkan satu peratu, sampai dimana
peraturan-peraturan itu dipertahankan, dihapuskan atau diubah.
Keadaan hukum pidana ini
dilanjutkan pada zaman pendudukan Jepang dan pada permulaan kemerdekaan
Indonesia, berdasar dari aturan-aturan peralihan, baik dari pemerintah Jepang
maupun dari Undang-undang Dasar RI 1945 pasal II dari aturan peralihan yang
bebrunyi :
“Segala badan negara dan peraturan
yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut
Undnag-Undang Dasar ini”.
Dengan Undang-undang Nomor 1 tahun
1946 tanggal 26 Februari 1946, termuat dalam Berita Republik Indonesia II Nomor
9 diadakan penegasan tentang hukum pidana yang berlaku di Republik Indonesia.,
disebutkan :
“Dengan menyimpang seperlunya dari
peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2.
Peraturan tersebut mengandung dua
pasal berikut :
- Pasal 1 : Segala badang negara dan peraturan-peraturan yang ada
sampai berdirinya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945,
slama belum diadakan yang baru menurut UUD, masih berlaku, asal saja tidak
bertentangan dengan UU tersebut.
- Pasal 2 : Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945.
Isi peraturan ini hampir sama
dengan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 tersbeut diatas. Perbedaannya adalah
bahwa kini disebutkan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai tanggal pembatasan dan
bahwa ditentukan peraturan-peraturan yang dulu itu dianggap tidak
berlakuapabila bertentangan dengan UUD.
Ketentuan yang terakhir ini sering
dilupakan oleh mereka yang cenderung menganggap semua peraturan dari zaman
penjajahan Belanda yang tidak secara tegas dicabut atau diganti tetap berlaku
tanpa kekecualiaan. Padahal diantara peraturan-peraturan itu ada beberapa yang
jelas hanya layak dalam hubungan-hubungan “kolonial”.
Penyimpangan dari Peraturan
Presiden 10 Oktober Nomor 2 oleh UU No. 1 tahun 1946 adalah apa yang ditentukan
dalam pasal I bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang sekrang (26 Februari
1946) berlaku adalah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8
Maret 1942, saat pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Balatentara Jepang
yang berganti berkuasa di Indonesia sampai dengan tanggal 17 Agustus 1945.
Dengan demikian, ditegaskan
pertama-tama bahwa semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh
pemerintah Jepang dianggap tidak berlaku lagi
Ini memang merupakan penyimpangan
dari Peraturan Presiden No. 10 Oktober 1945 Nomr 2 yang menurut peraturan
tersebut, semua peraturan yang ada pada tangal 17 Agustus 1945 tetap berlaku
selama belum diganti dengan yang baru. Sedangkan setahu saya, pada tanggal 26
Februari 1946 belum ada undang-undang Republik Indonesia yang memuat peraturan
hukum pidana.
Pasal II Undang-undang Nomor 1
tahun 1946 mencabut semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh Panglima
tertinggi balatentara Hindia Belanda dulu (Verordeningen van het Militair
Gezag).
Beberapa waktu sebelum 8 maret
1942 wilayah Hindia Belanda dinyatakan dalam keadaan perang (staat van oorlog
en beleg alias SOB) dan penguasa militer Hindia-Belanda secara sah mengeluarkan
agak banyak peraturan hukum pidana oleh Undang-undang Nomor 1 tahun 1946
semuanya dicabut. Jadi, yang tertinggal adalah peraturan-peraturan hukum pidana
sebelum 8 Maret 1942 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Sipil Hindia-Belanda.
Selanjutnya oleh Undang-undang
Nomor 1 tahun 1946 ditentukan sebagai berikut :
- Pasal III : Jikalau dalam sesuatu peraturan hukum pidana
ditulis perkataan “Nederlandsch-Indie” atau “Nederlandch-Indich (e)
(en)”2, maka perkataan-perkataan itu harus dibaca “Indonesie” atau
Indonesisch (e) (en)” 2.
- Pasal IV : Jikalau dalam ssuatu peraturan hukum pidana suatu
hak, kewajiban kekuasaan atau perlindungan diberikan atas suatu larangan
ditujukan kepada suatu pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang
sekarang tidak ada lagi maka hak, kewajiban, kekuasaan atau perlindungan
itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut ditujukan kepada
pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang harus dianggap menggantinya.
- Pasal V : Peraturan hukum pidana, yang seluruhnya atau sebagian
sekarang tidak dapat dijalankan atau betentangan dengan kedudukan Republik
Indonesia sebagai negara merdeka atau tidak mempunyai arti lagi, harus
dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku.
- Pasal VI :
(1)
Nama undang-undang hukum pidana “Wetboek van Strafrecht voor Nederlandch-Indie”
diubah menjadi “Wetboek van Strarecht”.
(2)
Undang-undang tersebut dapat disebut “Kitab Undang-undang Hukum Pidana”
- Pasal VII : Dengan tidak mengurangi apa yang ditetapkan dalam
Pasal III, maka semua perkataan “Nederlandch onderdaan” dalam Kitab
Undnag-undang Hukum Pidana diganti dengan “warga negara Indonesia”.
- Pasal VIII : Beberapa paal dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana
diubah atau dicabut.
- Pasal-pasal IX s.d XVI memuat beberapa tindak pidana baru yaitu
pasal IX s/d XIII mengenai alat pembayaran yangs ah berupa mata uang atau
uang kertas, pasal XIV mengenai penyiaran kabar bohong yang denagan itu
sengaja diterbitkan keonaran di kalangan rakyat, pasal XV mengenai
penyiaran kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau yang
tidak lengkap, pasal XVI mengenai penghinaan terhadap bendera kebangsaan
Indonesia.
Pada akhirnya ditetapkan bahwa
undnag-undang ini mulai berlaku untuk pulau Jawa dan Madura pada hari
diumumkannya (26 Februari 1946) dan untuk daerah lain pada hari yang akan
diteapkan oleh presiden.
Dengan Peraturan Pemerintah Nomor
8 tahun 1946 tanggal 8 Agustus 1946 (Berita Republik Indonesia II 20-21 halaman
234) undang-undang ini untuk Sumatera ditetapkan berlaku mulai tanggal 8
Agustus 1946.
Pada waktu itu, Pemerintah
Hindia-Belanda yang menamakan dirinya pemeritah federal, sudah ada di Jakarta
dan menguasai beberapa daerah baik di jawa, Madura dan Sumatera maupun diluar
daerah-daerah itu dan mengeluarkan beberpa undang-undang yang mengubah beberapa
pasal dari KUHP yang tentunya hanya berlaku bagi daerah-daerah yang didudukinya
sehingga ada dua KUHP.
Keadaan ini tetap berlangsung juga
setelah pada 27 Desember 1949 kedaulatan Republik Indonesia Serikat diakui oleh
pemerintah Belanda. Baru pada tanggal 29 September 1958 melalui Undang-undang
No. 73 tahun 1958 yang berjudul “undang-undang tentang menyatakan berlakunya
Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 Republik Indonesia tenatang peraturan hukum
pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dan mengubah Kitab
Undang-undang Hukum Pidana”. Dengan demikian pada saat itu jelas berlaku satu
hukum pidana untuk seluruh wilayah RI dengan Kitan Undang-undang Hukum Pidana
atau KUHP sebagai intinya.
F. Pembagian Hukum Pidana
- Hukum pidana dalam arti objektif dan dalam arti subjektif
Hukum pidana objektif (ius
poenale) adalah hukum pidana yang dilihat dari aspek larangan-larangan berbuat,
yaitu larangan yang disertai dengan ancaman pidana bagi siapa yang melanggar
larangan tersebut. Jadi hukum pidna objektif memili arti yang sama dengan hukum
pidana materiil. Sebagaimana dirumuskan oleh Hazewinkel Suringa, ius poenali
adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandunbg larangan dan perintah dan
keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana bagi si
pelanggarnya. Sementara hukum pidana subjektif (ius poeniendi) sebagai aspek
subjektifnya hukum pidana, merupakan aturan yang berisi atau mengenai hak atau
kewenangan negara :
- Untuk menentukan larangan-larangan dalam upaya mencapai
ketertiban umum.
- Untuk memberlakukan (sifat memaksanya) hukum pidana yang
wujudnya denagan menjatuhkan pidana kepada si pelanggar larangan tersebut,
serta
- Untuk menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan oleh
negara pada si pelanggar hukum pidana tadi.
Jadi dari segi subjektif negara
memiliki dan memegang tiga kekuasaan/hak fundamental yakni :
- Hak untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilarang dan
menentukan bentuk serta berat ringannya ancaman pidana (sanksi pidana)
bagi pelanggarnya.
- Hak untuk menjalankan hukum pidana dengan menuntut dan
menjatuhkan pidana pada si pelanggar aturan hukum pidana yang telah
dibentuk tadi, dan
- Hak untuk menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan pada
pembuatnya/petindaknya.
Walaupun negara mempunyai
kewenangan/kekuasaan diatas namun tetap dibatasi jika tidak maka negara akan
melakukan kesewenangan-wenangan sehingga menimbulkan ketidakadilan,
ketidaktentraman dan ketidaktenangan warga diantara negara. Pembatasan tersebut
melalui koridor-koridor hukum yang ditetap dalam hukum pidana materiil dan
hukum pidana formil. Misalnya dalam hukum pidana materil pasal 362 KUHP tentang
larangan perbuatan mengambil benda milik orang lain dengan maksud memiliki benda
itu secara melawan hukum (disebut pencurian) yang diancam dengan pidana penjara
paling lama 5 tahun atau denda maksimum Rp. 900.000. Terhadap si pelanggar
larangan ini, hak negara dibatasi tidak boleh menjatuhkan pidana :
- Selain pidana penjara dan denda
- Jika penjara tidak boleh melebihi 5 tahun, dan jika denda tidak
diperkenankan diatas Rp. 900.000.
Juga dibatasi oleh hukum formil
artinya tindakan-tindakan nyata negara sebelum, pada saat dan setelah
menjatuhkan pidana serta menjalankannya itu diatur dan ditentukan secara rinci
dan cermat, yang pada garis besarnya berupa tindakan penyelidikan, penyidikan,
penuntutan, persidangan dengan pembuktian dan pemutusan (vonis) dan barulah
vonis dijalankan (eksekusi). Perlakuan-perlakuan negara terhadap pesakitan/pelaku
pelanggaran harus menurut aturan yang sudah ditetapkan dalam hukum pidan
formil.
2. Hukum Pidana Materil dan Hukum
Pidana Formil
Tentang hukum pidana materil dan
hukum pidana formil akan dijelaskan menurut pendapat ahli dibawah ini :
- van HAMEL memberikan perbedaan antara hukum pidana materil
dengan hukum pidana formil. Hukum pidana materil itu menunjukkan asas-asas
dan peraturan-peraturan yang mengaitkan pelanggaran hukum itu dengan
hukuman. Sedangkan hukum pidana formil menunjukkan bentuk-bentuk dan jangka-jangka
waktu yang mengikat pemberlakuan hukum pidana materil.
- van HATTUM, hukum pidana materil adalah semua ketentuan dan
peraturan yang menujukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah
merupakan tindakan-tindakan yang dapat dihukum, siapakah orangnya yang
dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindakan-tindakan tersebut dan
hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap orang tersebut
(hukum pidana materil kadang disebut juga hukum pidana abstrak). Sedangkan
hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang
bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus
diberlakukan secara nyata. Biasanya orang menyebut hukum pidana formil
adalah hukum acara pidana.
- SIMONS, hukum pidana materil itu memuat ketentuan-ketentuan dan
rumusan-rumusan dari tindak pidana, peraturan-peraturan mengenai syarat
tentang bilamana seseorang itu menjadi dapat dihukum, penunjukkan dari
orang-orang yang dapat dihukum dan ketentuan-ketentuan mengenai
hukuman-hukumannya sendiri; jadi ia menentukan tentang bilamana seseorang
itu dapat dihukum, siapa yang dapat dihukum dan bilamana hukuman tersebut
dapat dijatuhkan.
3. Hukum Pidana Umum dan Hukum
Pidana Khusus
Hukum pidana umum adalah hukum
pidana yang ditujukan dan berlaku untuk semua warga negara (subjek hukum) dan
tidak membeda-bedakan kualitas pribadi subjek hukum tertentu. Setiap warga
negara harus tunduk dan patuh terhadap hukum pidana umum.
Hukum pidana khusus adalah hukum
pidana yang dibentuk oleh negara yang hanya dikhususkan berlaku bagi subjek
hukum tertentu saja. Misalnya hukum pidana yang dimuat dalam BAB XXVIII buku II
KUHP tentang kejahatan jabatan yang hanya diperuntukkan dan berlaku bagi
orang-orang warga. penduduk negara yang berkualitas sebagai pegawai negeri saja
atau hukum pidana yang termuat dalam Kitab UU Hukum Pidana Tentara (KUHPT) yang
hanya berlaku bagi subjek hukum anggota TNI saja.
Jika ditinjau dari dasar wilayah
berlakunya hukum, maka dapat dibedakan antara hukum pidana umum dan hukum
pidana lokal. Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh
pemerintahan negara pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan
berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara.
Contohnya adalah hukum pidana yang dimuat dalam KUHP, berlaku untuk seluruh
wilayah hukum negara RI (asas toritorialitet, pasal 2 KUHP). Sedangkan hukum
pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh pemerintah daerah yang
berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum
pidana di dalam wilayah hukum pemerintahah daerah tersebut. Hukum pidana lokal
dapat dijumpai did alam PERDA, baik di tingkat propinsi, kabupaten maupun
pemerintahan kota.
Menurut PAF. LAMINTANG,
penjatuhan-penjatuhan hukum seperti tlah diancamkan terhadap setiap pelanggar
dan peraturan-peraturan daerah itu secara mutlak harus dilakukan oleh
pengadilan. Dengan demikian, maka masalah terbukti atau tidaknya sseorang yang
telah dituduh melakukan suatu pelanggaran terhadap peraturan daerah,
pengadilanlah satu-satunya lembaga yang berwenang untuk memutuskannya. Dengan
pula mengenai hukuman yang bagaimana yang akan dijatuhkan kepada si pelanggar
dan mengenai akibat-akibat hukum lainnya seperti dirampasnya barang-barang
bukti untuk keuntungan negara, dikembalikannya barang-barang bukti kepaa terhukum
dan lain-lainnya, hanya pengadilanlah yang berwenang untuk memutuskannya. Tidak
seorangpun termasuk pemerintah-pemerintah daerah dan alat-alat kekuasaannya
boleh menahan, memeriksa orang yang dituduh telah melakukan suatu pelanggaran
terhadap barang-barangnya tanpa mengajukan mereka ke pengadilan untuk diadili.
Dalam melakukan penahanan, pemeriksaan, dan penyitaan-penyitaan,
pemerintah-pemerintah daerah berikut aalat kekuasaannya, terikat pada
ketentuan-ketentuan seperti yang telah diatur di dalam UU No. 8 tahun 1981
tentang hukum acara pidana. Setiap tindakan yang diambil oleh alat-alat negara
dengan maksud menghukum seseorang yang telah dituduh melakukan suatu
pelanggaran terhadap peraturan-peraturan daerah atau terhadap
ketentuan-ketentuan pidana menurut UU tanpa bantuan dari pengadilan, pada
hakikatnya merupakan suatu perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) yang
dilarang oleh hukum. Sebagaimana diungkapkan oleh HAZEWINKEL SURINGA : “di
dalam hukum pidana baik negara maupun badan yang bersifat hukum publik yang
lebih rendah lainya, tidak berwenang main ahakim sendiri”. Maka dapat dikatakan
telah terjadi perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) dan jika dilakukan
oleh penguasa disebut onrechtmatige overheidsdaad (perbuatan melanggar hukum
oleh penguasa).
4. Hukum Pidana Tertulis dan Hukum
Pidana Tidak Tertulis
Hukum pidana tertulis adalah hukum
pidana undang-undang, yang bersumber dari hukum yang terkodifikasi yaitu Kitab
Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) dan bersumber dari hukum yang diluar kodifikasi yang tersebar
dipelbagai peraturan perundang-undangan.
Hukum pidana yang berlaku dan
dijalankan oleh negara adalah hukum tertulis saja, karena dalam hal berlakunya
hukum pidana tunduk pada asas legalitas sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 (1)
KUHP berbunyi “tiada suatu perbuatan yang dapat dipidana kecuali berdasarkan
kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelum perbuatan
itu dilakukan”.
Sementara itu hukum pidana tidak tertulis
tidak dapat dijalankan. Namun demikian ada satu daar hukum yang dapat memberi
kemungkinan untuk memberlakukan hukum pidana adat (tidak tertulis) dalam arti
yang sangat terbatas berdasarkan Pasal 5 (3b) UU No. 1/Drt/1951.
5. Hukum Pidana Yang DiKodifikasikan
dan Tidak Dikodifikasikan
Hukum pidana yang dikodifikasikan
(codificatie, belanda) adalah hukum pidana tersebut telah disusun secara
sistematis dan lengkap dalam kitab undang-undang, misalnya Kitab undang-undang
Hukum Pidana (KUHP), Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP dan Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Militer (KUHPM). Sedangkan yang termasuk dalam hukum
pidana tidak terkodifikasi adalah peraturan-peraturan pidana yang terdapat di
dalam undang-undang atau peraturan-peraturan yang bersifat khusus (van HATTUM)
G. PENAFSIRAN UNDANG-UNDANG PIDANA
1. Pentingnya Penafsiran
undnag-undang Pidana
Dalam hal berlakunya hukum pidana
tidak dapat dihindari adanya penafsiran (interpretatie) karena ha-hal
sebagai berikut :
- Hukum tertulis tidak dapat dengan segera mengikuti arus
perkembangan masyarakat. Dengan berkembangnya masyarakat berarti
berubahnya hal-hal yang dianutnya, dan nilai-nilai ini dapat mengukur
segala sesuatu, misalnya tentang rasa keadilan masyarakat. Hukum tertulis
bersifat kaku, tidak dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan
masyarkat. Oleh karena itu, hukum selalu ketinggalan. Untuk mengkuti
perkembangan itu acap kali praktik hukum menggunakan suatu penafsiran.
- Ketika hukum tertulis dibentuk, terdapat ssuatu hal yang tidak
diatur karena tidak menjadi perhatian pembentuk undang-undang. Namun
setelah undang-undang dibentuk dan dijalanka, barulah muncul persoalan
mengenai hal-hal yang tidak diatur tadi. Untuk memenuhi kebutuhan hukum
dan mengisi kekosongan norma semacam ini, dalam keadaan yang mendeak dapat
menggunakan suatu penafsiran.
- Keterangan yang menjelaskan arti beberapa istilah atau kata
dalam undnag-undang itu sendiri (Bab IX Buku I KUHP) tidak mungkin memuat
seluruh istilah atau kata-kata penting dalam pasal-pasal perundang-undangan
pidana, mengingat begitu banyaknya rumusan ketentuan hukum pidana.
Pembentuk undang-undnag memberikan penjelasan hanyalah pada istilah atau
unsur yang benar-benar ketika undnag-undang dibentuk dianggap sangat
penting, ssuai dengan maksud dari dibentuknya norma tertentu yang
dirumuskan. Dalam banyak hal, pembentuk undnag-undang menyerahkan pada
perkembangan praktik melalui penafsiran-penafsiran hakim. Oleha karena
itu, salahy satu pekerjaan hakim dalam menerapkan hukum ialah melakukan
penafsiran hukum.
- Acap kali suatu norma dirumuskan secara singkat dan besifat
sangat umum sehingga menjadi kurang jelas maksud dan artinya. Oleh karena
itu, dalam menerapkan norma tadi akan menemukan kesulitan. Untuk mengatasi
kesulitan itu dilakuakn jalan menafsirkan. Dalam hal ini hakim bertugas
untuk menemukan pikiran-pikiran apa yang sebenarnya yang terkandung dalam
norma tertulis. Contohnya dalam rumusan Pasal 1 (2) KUHP perihal unsur
”aturan yang paling menguntungkan terdakwa” mengandung ketidakjelasan arti
dan maksud dari ”aturan yang paling menguntungkan. Hal tersebut dapat
menimbulkan bermacam pendapat hukum dari kalangan ahli hukum. Timbulnya
beragam pendapat seperti ini karena adanya penafsiran.
Bedasarkan hal diatas sangatlah
jelas bahwa perkembangan masyarakat dimana kebutuhan hukum dan rasa keadilan
juga berubah sesuai denagan nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat, maka
untuk memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang
berkembang dan dianut masyarakat tersbeut, dalam praktik penerapan hukum
diperlukan penafsiran.
Untuk (KUHP) tidak memberikan
petunjuk tentang bagaimana cara hakim untuk melakukan penafsiran. Cara-cara
penafsiran ada dalam doktrin hukum pidana. Untuk melakukan penafsiran, cara
yang akan digunakan diserahkan pada praktik hukum. Hanya saja terhadap suatu
cara penafsiran telah terjadi perbedaan pendapat yaitu terhadap penggunaan
penafsiran analogi, dimana ada sebagian pakar hukum yang keberatan berkaiatan
dengan masalah asas legalitas tentang berlakunya hukum pidana sebagaimana
dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.
2. Macam-Macam Penafsiran Dalam
Hukum Pidana
a. Penafsiran Autentik
Penafsiran autentik (resmi)
Penafsiran sahih (autentik, resmi) ialah penafsiran yang pasti terhadap arti
kata-kata itu sebagaimana yang diberikan oleh pembentuk UU, atau penafsiran ini
sudah ada dalam penjelasan pasal demi pasal, misalnya Pasal 98 KUHP :
arti waktu ”malam” berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit;
Pasal 101 KUHP: “ternak” berarti hewan yang berkuku satu, hewan memamah biak
dan babi (periksa KUHP Buku I Titel IX).
Contoh lainnya dalam penjelasan
atas pasal 12 B ayat (1) UU No 20 tahun 2001, menjelaskan yang dimaksud dengan
gratifikasi dalam ayat ini adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi
pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket
perjalanan, fasiltas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-Cuma dan
fasiltas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri
maupun luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau
sarana tanpa elektronik.
Dikatakan penafsiran otentik
karena tertulis secara esmi dalam undnag-undang artinya berasal dari pembentuk
UU itu sendiri, bukan dari sudut pelaksana hukum yakni hakim. Dalam penafsiran
bermakna hakim kebebasannya dibatasi. Hakim tidak boleh memberikan arti diluar
dari pengertian autentik. Sedangkan diluar KUHP penafsiran resmi dapat dilihat
dari ketentuan-ketentuan umum dan penejelasan pasal demi pasal.
b. Penafsiran tata bahasa (gramaticale
interpretatie), disebut juga penafisran menurut atau atas dasar bahasa
sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Bekerjanya
penafsiran ini ialah dalam hal untuk mencari pengertian yang sebenarnya dari
suatu rumusan norma/unsurnya, dengan cara mencari pengertian yang sebenarnya
menurut bahasa sehar-hari yang digunakan masyarakat yang bersangkutan. Sebagai
contoh dapat dikemukakan hal yang berikut : Suatu peraturan perundangan
melarang orang memparkir kenderaannya pada suatu tempat tertentu. Peraturan
tersebut tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan istilah “kendaraan”
itu.
Orang lalu bertanya-tanya, apakah
yang dimaksudkan dengan perkataan “kenderaan” itu, hanyalah kenderaan
bermotorkah ataukah termasuk juga sepeda dan bendi.
Contoh lain kata “dipercayakan”
sebagaimana dirumuskan dalam dalam pasal 432 KUHP secara gramatikal diartikan
dengan “diserahkan”, kata “meninggalkan” dalam pasal 305 KUHP diartikan secara
gramatikal dengan “menelantarkan”.
Contoh lain adalah kasus melalui
putusan Pengadilan Tinggi Meda tanggal 8-8-1983 No. 144/Pid/PT Mdn telah
memberikan arti bonda (bahasa Batak) dari unsur benda (goed) dalam
penipuan adalah juga temasuk ”alat kelamin wanita”. Perhatikanlah petimbangan
Pengadilan Tinggi Medan mengenai hal ini sebagai berikut , ”bahwa walaupun
belebihan, khusus dan teutama dalam perkara ini tentang istilah barang, dalam
bahasa daeah tedakwa dan saksi (Tapanuli) dikenal istilah ”bonda” yang tidak
lain daripada barang, yang diatikan kemaluan sehingga bilsa saksi K.br.S
menyeahkan kehormatannya kepada terdakwa samalah dengan menyeahkan
benda/barang.
Tentu pendapat Pengadilan Tinggi
Medan ini masihd apat diperdebatkan. Pertimbangan Pengadilan tinggi Medan
seperti disini bukan ditujukan pada tepat atau tidak tepatnya pendapat itu,
melainkan sekadar memberi contoh bahwa disini hakim telah berusaha untuk
mencapai keadilan dengan menggunakan penafsian tata bahasa menurut bahasa yang
digunakan oleh masyarakat yang besangkutan walaupun diakui oleh hakim yang besangkutan
sebagai pertimbangan yang berlebihan.
c. Penafsiran historis (historiche
interpretatie) yaitu :
1)
Sejarah hukumnya, yang diselidiki maksudnya berdasarkan sejarah terjadinya
hukum tersebut. Sejarah terjadinya hukum dapat diselidiki dari memori
penjelasan, laporan-laporan perdebatan dalam DPR dan surat menyurat antara
Menteri dengan Komisi DPR yang bersangkutan, misalnya rancangan UU, memori
tanggapan pemerintah, notulen rapa/sidang, pandangan-pandangan umum, dll
2)
Sejarah undang-undangnya, yang diselidiki maksud pembentuk UU pada waktu
membuat UU itu, misalnya denda f 25.-, sekarang ditafsirkan dengan uang
Republik Indonesia sebab harga barang lebih mendekati pada waktu KUHP
- Penafsiran sistematis/dogmatis (systematische
interpretatie), penafsiran menilik susunan yang berhubungan dengan
bunyi pasal-pasal lainnya baik dalam UU itu maupun dengan UU yang lainnya
misalnya ”ketentuan paling menguntungkan” dalam rumusan ayat 2 dari Pasal
1 KUHP apabila dihubungkan dengan rumusan ayat 1 pasal 1 KUHP yang
merumuskan ”suatu perbuatan dapat dipidana keculai bedasarkan kekuatan
ketentuan peundang-undangan pidana yang telah ada, pengetiannya adalah
suatu ketentuan tentang tidak dapat dipidanya perbuatan. Artinya semula
perbuatan tetentu dipidana, kemudian menurut ketentuan yang baru menjadi
tidak dapat dipidana. Misalnya sebulan yang lalu A melakukan perbuatan
pidana yang dapat dihukum, kemudian hari ini muncul UU yang mengatur
perbuatan poidana tesebut tidak dapat dihukum. Dengan demikian yang
dibelakukan adalah UU pidana bau yang menguntungkan.
Contoh lain, misalnya pengertian
perbuatan ”menggugurkan kandungan”, dalam Pasal 347 KUHP, yang artinya
kandungan (vucht) atau yang janin dari perut ibu bahwa vrucht yang
dipaksa keluarkan itu harus dilakukan pada janin yang hidup, bukan janin yang
sudah mati. Mengapa demikian ? karena jika melihat pasal 347 itu dengan
menghubungkannya pada judul Bab XIX tentang kejahatan terhadap Nyawa (secaa
sistematis), dimana pasal 347 itu adalah bagian dari Bab IX itu, semua objek
kejahatan dalam Bab XIX adalah nyawa. Artinya, janin tadi haruslah benyawa dan
tidak berlaku bagi janin yang sudah tidak bernyawa atau telah mati. Janin yang
hidup dalam peut ibu yang mengandungnya dipandang sebagai satu kehidupan yang
bediri sendiri yang lain dari nyawa atau kehidupan ibu yang mengandungnya.
- Penafsiran Logis (Logische Interpretatie) adalah suatu
macam penafsiran dengan cara menyelidiki untuk mencari maksud sebenarnya
dari dibentuknya suatu rumusan norma dalam UU dengan menghubungkannya
(mencari hubungannya) denagan rumusan norma yang lain atau dengan
undang-undang yang lain yang masih ada sangkut-pautnya dengan rumusan
norma tersebut (lihat pasal 55 KUHP).
- Penafsiran Teleologis (Teleologische Interpretatie))
yaitu penafsiran dengan mengingat maksud dan tujuan UU itu. Ini penting
disebabkan kebutuhan-kebutuhan berubah menurut masa sedangkan bunyi UU
tetap sama saja. Contoh pada saat masih ebrlakunya UU No. 11/PNPS/1963
tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi (dicabut dengan UU No. 26 tahun
1999), di dalam menafsirkan rumusan yang ada dalam UU itu mengenai suatu
kasus tertentu, selalu didasarkan pada maksud dari pembentuk UU itu, yaitu
untuk memberantas setiap perbuatan atau upaya-upaya yang menggangu dan
menggoyang kelangsungan dan atau kestabilan kekuasaan pemerintahan negara
ketika itu.
- Penafsiran Analogis, memberi tafsiran pada sesuatu peraturan
hukum dengan memberi ibarat (kiyas) pada kata-kata tersebut sesuai dengan
asas hukumnya, sehingga sesuatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat
dimasukkan, lalu dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut (ada
rasio persamannya kejadian konkretnya terhadap noma-noma tesebut),
misalnya pasal 388 ayat (1) yang melarang oang melakukan pebuatan curang
pada waktu menyeahkan keperluan angkatan laut atau angkatan darat yang
dapat membahayakan keselamatan negaa dalam keadaan perang. Jadi tidak ada
diatur keperluan angkatan udara. Tetapi dengan menggunakan penafsirang
analogis, maka jika terjadinya menyerahkan pada angkatan udara maka pasal
ini juga dapat dikenakan karena pada dasar fungsi, peranan dan tugas
angkatan laut dan darat juga sama dengan tugas angkatan udara yaitu dalam
usaha perlindungan keselamatan dan keamanan negara.
Walaupun banyak kalangan ahli
hukum melarang menggunakan analogis karena bertentangan dengan asas
legalitas namun dalam praktek hukum terjadi juga analogi misalnya (Arrest
Hoge Raad tanggal 23 Mei 1921) yang menganalogikan “menyambung” aliran listrik
dianggap sama dengan “mengambil” aliran listrik sehingga dapat dijeat pasal 362
KUHP.
- Penafsiran Esktensip, memberi tafsiran dengan memperluas arti
kata-kata dalam peraturan itu sehingga sesuatu peristiwa dapat
dimasukkannya seperti “aliran listrik” termasuk juga “benda”. Jadi,
penafisran ekstensif didasarkan makna norma itu menurut keadaan yang
sekarang yang atinya ada perubahan makna dari sesuatu pengertian
unsur-unsur rumusan atau umusan suatu norma (hampir sama dengan analogi).
- Penafsiran a Contrario (menurut peringkaran) ialah suatu cara
menafsirkan UU yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang
dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu pasal UU. Dengan berdasarkan
perlawanan pengertian (peringkaran) itu ditarik kesimpulan, bahwa soal
yang dihadapi itu tidak diliputi oleh pasal yang termaksud atau dengan kata
lain berada diluar pasal tersebut.
Penafsiran ini diterangkan oleh
Satochid Kartanegara bahwa ”keadaan ini kita jumpai apabila terdapat beberapa
hal yang diatur dengan tegas oleh UU, tetapi disamping itu tedapat pula
hal-hal, yang sandaran maupun sifatnya sama, tidak diatur denagan tegas oleh
UU, sedang hal-hal ini tidak diliputi oleh UU yang mengatur hal-hal tegas ini
(lihat Pasal 285 KUHP).
Contoh Pasal 34 KUHPerdata
menentukan bahwa seorang perempuan tidak diperkenankan menikah lagi sebelum
liwat 300 hari setelah perkawinannya terdahulu diputuskan. Timbullah kini
pertanyaan, bagaimanakah halnya dengan seorang laki-laki ? Apakah seorang
laki-laki juga harus dan khusus ditujukan kepada orang perempuan.
Maksudnya “waktu menunggu” dalam
pasal 34 KUHPerdata ialah untuk mencegah adanya keragu-raguan mengenal
kedudukan sang anak, berhubung dengan kemungkinan bahwa seorang perempuan
sedang mengandung setelah perkawinannya diputuskan. Jika dilahirkan anak
setelah perkawinan yang berikutnya, maka menurut UU anak itu adalah anaknya
suaminya yang terdahulu (jika anak itu lahir sebelum liwat 300 hari setelah
putusnya perkawinan teahulu). Ditetapkan waktu 300 hari ialah karena waktu itu
dianggap sebagai waktu kandungan yang paling lama.
Diatas telah dikemukakan beberapa metode
penafsiran (interpretasi), yang mana yang harus dipilih ?
Peraturan umum mengenai pertanyaan
metode interpretasi yang mana, dalam peristiwa konkrit yang mana, yang harus
digunakan oleh hakim tidak ada. Pembentuk UU tidak memberi prioritas kepada salah
satu metode dalam menemukan hukum. Hakim hanya akhirnya akan menjatuhkan
pilihannya berdasarkan petimbangan metode manakah yang paling meyakinkan dan
yang hasilnya paling memuaskan. Pemilihan mengenai metode interpretasi
merupakan otonomi hakim dalam penemuan hukum. Motivasi pemilihan metode
interpretasi itu tidak pernah kita jumpai dalam yurisprudensi : mengapa hakim
memilih metode interpretasi yang ini dan bukan yang itu tidak pernah disebut
dalam yurisprudensi. Di dalam putusan-putusannnya hakim tidak pernah menegaskan
argumen atau alasan apakah yang menentukan untuk memilih metode tertentu.
Metode interpretasi itu sering digunakan bersama-sama atau campur aduk.
Dapatlah dikatakan bahwa dalam tiap interpretasi atau penjelasan UU terdapat
unsur2 gramatikal, historis, sistematis dan teleologis.
BAB II
RUANG LINGKUP BERLAKUNYA
HUKUM PIDANA
- Hukum Pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk
diberlakukan dalam masyarakat agar dapat dipertahankan segala kepentingan
hukum yang dilindungi dan terjaminnya kedamaian dan ketertiban.
- Dalam hal diberlakukannya hukum pidana ini, dibatasi oleh hal
yang sangat penting, yaitu :
- Batas waktu (diatur dlm buku pertama, Bab I pasal 1 KUHP)
- Batas tempat dan orang (diatur dlm buku Pertama Bab I Pasal 2 –
9 KUHP)
A. BATAS BERLAKUNYA HUKUM
PIDANA MENURUT WAKTU
- Prinsip/asas legalitas telah diperjuangkan sejak abad XVIII di
Eropa Barat sebagai reaksi atas berlakunya hukum pidana zaman monarki
absolut dengan menjalankan hukum pidana secara sewenang-wenang, sekehendak
dan menurut kebutuhan Raja sendiri.
- Ahli hukum yang memperjuangkan dan memperkenalkan asas
legalitas ini yang terkenal adalah Montesquieu (1689-1755) dengan teori
Trias Politicanya yang disempurnakan oleh Von Feurbach (1755-1833).
- Trias Politica :
- Kekuasaan legislatif atau membuat perundang-undangan yang
dipegang leh parlemen.
- Kekuasaan eksekutif yang menjalankan pemerintahan yang dipegang
oleh pemerintah dan
- Kekuasaan yudikatif atau kehakiman, yakni badan yang
menjalankan hukum yang telah dibuat oleh parlemen. Badan kehakiman ini
tidak bertugas menentukan tentang perbuatan apa yang dilarang dan diancam
pidana, melainkan hanya semata-mata bertugas untuk memeriksa dan memutus
apakah suatu perbuatan tertentu telah bertentangan dengan ketentuan
undang-undang.
- Dengan adanya ajaran Trias Politica itu, untuk memidana
seseorang atas perbuatan yang dilakukannya, disyaratkan agar terlebih dulu
harus ada ketentuan hukum yang menyatakan perbuatan itu sebagai dilarang
dan dapat dipidana (dibuat dulu aturan oleh legislatif).
- Anselm Von Feuerbach (Belanda) melakukan upaya yang lebih
konkret dalam memperkenalkan asas legalitas yang terkenal dengan ucapannya
dalam bahasa latin (dalam bukunya yang berjudul “Lehrbuch des
peinlichen Recht”, 1801) yaitu “Nullum delictum nulla poena sina
praevia lege” yang artinya tidak ada pidana tanpa adanya ketentuan
hukum yang lebih dulu menentukan demikian. Ucapannya ini secara jelas
mengandung pengertian sebagaimana yang dimaksud dengan asas legalitas
- Selanjutnya menurut Anselm Von Feuerbach beliau mengajarkan
bahwa untuk menjamin dan mempertahankan ketertiban masyarkat, pidana harus
berfungsi menakut-nakuti orang-orang agar tidak berbuat jahat, dan agar
orang takut berbuat jahat, terlebih dulu ia harus mengetahui tentang
ancaman pidana terhadap perbuatan jahat tersebut.
- Agar orang mengetahui perihal ancaman pidana itu, hal-hal yang
dilarang beserta ancaman pidananya itu harus ditetapkan terlebih dulu
dalam UU.
- Asas legalitas yang juga dikenal dengan asas “asas nulla
poena” pertamakali dimuat dalam pasal 8 “Declaration des droits
de L’hommeet du Citoyen” (1789), semacam Undang-Undang Dasar yang
pertama dibentuk pada masa revolusi Prancis, yang bunyinya “tidak ada
sesuatu yang boleh dipidana selain karena suatu wet yang
ditetapkan dalam undang-undang dan diundangkan secara sah (Moeljatno, 1983
: 24). Kemudian asas ini dimuat dalam Pasal 4 Code Penal Prancis tahun
1810.
- Ketika Belanda lepas dari pemerintahan Prancis tahun 1813, Code
Penal ini tetap diberlakukan di Belanda sampai digantinya WvS Nederland
1881.
- Code Penal 1810 ini berlaku 75 tahun di Belanda walaupun
sifatnya sementara
- Dalam WvS Nederland (disusun tahun 1881 dan mulai berlaku tahun
1886) yang baru ini asas legalitas dari Code Penal Prancis itu masuk
didalamnya (Pasal 1 ayat 1).
- Berdasarkan asas konkordansi WvS Nederland diberlakukan di
Hindia Belanda pada 1 Januari 1918 menjadi Wetboek van Strafrecht voor
Nederlandsch Indie (yakni kini KUHP), dimana juga asas legalitas ini
tetap tercantum di dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP Indonesia.
- Pasal 1 ayat 1 KUHP merumuskan “suatu perbuatan tidak dapat
dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana
yang telah ada terlebih dulu “Geen feit is strafbaar dan uit kracht
van eene daaraan vooragegane wettelike strafbepaling).
- Asas ini dalam bahasa latinnya adalah Nullum delictum nulla
poena sine praevia legi poenali”.
- Dalam ketentuan Pasal 1 ayat 1 KUHP tersebut, ada tiga
pengertian dasar dalam asas legalitas itu yaitu : 1) Ketentuan hukum
pidana itu harus ditetapkan lebih dahulu secara tertulis. 2) Dalam hal
untuk menentukan suatu perbuatan apakah berupa tindak pidana ataukah bukan
tidak boleh menggunakan penafsiran analogi. 3) Ketentuan hukum pidana
tidak berlaku surut (terugwerkend atau retroaktif).
- Dari tiga pengertian dasar diatas, tampak betul bahwa asas
legalitas ini berlatarbelakang pada kepastian hukum yang
berkaitan dengan perlindungan yang lebih konkret terhadap hak-hak warga
yang berhadapan dengan kekuasaan pemerintahan negara
- Dengan asas legalitas terhindar dan dapat mencegah sewenang-wenangan
penguasa dalam bidang peradilan pidana. Asas legalitas adalah ajaran
kepastian hukum
- Dapat disimpulkan hukum pidana harus tertulis, tidak boleh ada
penafsiran analogi dan tidak boleh berlaku surut.
1) Hukum pidana harus
tertulis :
- Peraturan perundangan haruslah tertulis karena tertulis berarti
harus ditetapkan terlebih dulu, baru kemudian diberlakukan.
- Ketentuan pidana harus tertulis bukan saja dalam bentuk
undang-undang, tetapi juga tertulis dalam bentuk peraturan-peraturan
lainnya yang tingkatannya dibawah undang-undang.
- Jadi, sumber hukum pidana itu bukan saja UU dalam arti formil
tetapi juga dalam arti materiil termasuk peraturan pemerintah,peraturan
daerah (kabupaten atau kota), peraturan menteri, keputusan presiden dan
lain sebagainya yang mengandung aspek hukum pidana.
Kelemahan :
- Hukum pidana yang harus dibuat tertulis mempunyai kelemahan
yaitu hukum pidana kaku, tidak dapat dengan cepat mengikuti perkembangan
masyarakat dan lagi pula banyak perbuatan-perbuatan dalam masyarakat yang
patut dipidana seperti dalam hukum adat (pidana) yang masih hidup namun
tidak dapat dijalankan karena tidak ada bandingannya dalam peraturan
tertulis ini.
- Untuk peran hukum adat sebagaimana tertuang dalam Pasal 5 ayat
3b UU No. 1 (drt) 1951 sangatlah penting.
2) Larangan Menggunakan
Penafsiran Analogi Dalam Hukum Pidfana
- Salah satu pekerjaan hakim adalah melakukan penafisran hukum,
terutama terhadap norma tindak pidana dalam hukum tertulis ketika norma
tersebut diterapkan dalam suatu peristiwa konkret tertentu.
- Norma-orma hukum pidana mengenai rumusan tindak pidana ketika
diterapkan pada kejadian atau peristiwa-peristiwa konkret tertentu tidak
jarang memerlukan penafsiran
- Hal ini dapat terjadi pada peristiwa tertentu yang tidak sama
persis dengan apa yang dirumuskan dalam UU, mengenai salah satu atau
beberapa unsur tindak pidananya.
- Ada beberapa macam penafsiran yang telah dikenal dalam doktrin
hukum pidana yaitu penafisran autentik, penafsiran gramatikal, penafsiran
logis, penafsiran sistematis, penafisran historis, penafisran ekstensif,
penafsiran a kontrario, penafsiran terbatas dan penafisran analogis.
- Dari sekian penafsiran diatas penafsiran analogi oleh berbagai
kalangan ahli hukum tidak boleh digunakan dalam hukum pidana, mengingat
pasal 1 (1) KUHP walaupun ada sebagian pakar hukum membolehkan seperti
Tavarne, Pompe, Jonkers, di Indonesia Wirjono Prodjodikoro.
- Alasan mengapa analogi dilarang dalam hukum pidana berpokok
pangkal untuk menjamin kepastian hukum. Dirasakan sebagai penyerangan dan
pelanggaran atas kepastian berlakunya hukum apabila analogi itu
dipergunakan, sebagaimana dasar dibentuknya rumusan Pasal 1 (1) KUHP ialah
pada latar belakang kepastian hukum dalam rangka melindungi rakyat dari
upaya kesewenang-wenangan penguasa melalui para hakim.
- Akan tetapi, terlepas dari adanya kelemahan dari larangan
menggunakan analogi, perluasan berlakunya hukum yang demikian ini
mempunyai mamfaat dalam upaya mencapai keadilan, dimana menurut masyarakat
sesuatu perbuatan yang tidak secara tepat dapat dipidana melalui aturan
pidana tertentu, namun dengan menggunakan analogi bagi pelaku perbuatan
itu menjadi dapat dipidana.
- Diakui bahwa analogi mengurangi kepastian hukum dan dapat
disalahgunakan oleh penguasa melalui para hakimnya atau oleh hakim yang
tidak bijaksana, namun begitu analogi amat berguna dan dapat dipakai dalam
hal untuk mengisi kekosongan dalam peraturan perundang-undangan.
- Analogi adalah penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum
(pidana) dengan cara memperluas berlakunya aturan hukum tersebut dengan
mengabstraksikan rasio ketentuan itu sedemikian rupa luasnya pada kejadian
konkret tertentu sehingga kejadian yang sesungguhnya tidak masuk ke dalam
ketentuan itu menjadi masuk ke dalam isi atau pengertian ketentuan hukum
tersebut.
- Dengan kata lain, analogi itu terjadi apabila suatu
peraturan hukum menyebut dengan tegas suatu kejadian yang diatur, tetapi
peraturan itu dipergunakan juga bagi kejadian/peristiwa lain yang tidak
termasuk dalam peraturan itu, ada banyak persamaannya dengan kejadian yang
disebut tadi.
- Contoh kasus : misalnya dari ketentuan pasal 365 (2) sub 1 yang
antara lain melarang melakukan pencurian dalam kereta api atau trem yang
sedang berjalan, berlaku juga pada pencurian dalam sebuah bis yang sedang
berjalan. Dalam hal ini bis dianalogikan dengan kereta api atau trem
sehingga orang yang mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan dapat
pula diterapkan ketentuan hukum pidana menurut Pasal 365 (2) sub 1 ini
(Wirjono Prodjodikoro).
- Mengapa bis dianalogikan dengan trem, rasio larangan mencuri didalam
trem yang sedang berjalan yang berlatar belakang pada larangan mencuri
dalam kenderaan angkutan yang sedang berjalan pada dasarnya sama dengan
rasio melarang mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan karena kereta
api, trem dan bis adalah sama, angkutan umum yang berjalan.
- Mengapa tidak disebut bis dalam Pasal 365 ayat 2 sub 1 karena
ketika KUHP (WvS Belanda 1881) dibentuk, belum ada bis yang dipergunakan
sebagai angkutan umum seperti keadaan sat ini. Jadi apa salahnya dengan
analogi melarang pula mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan.
- Pengertian seperti ini sesuai dengan pengertian dari perbuatan
mengambil sebagai unsur tingkah laku pada pencurian yaitu berupa
benda-benda yang dapat diambil, artinya yang dapat dipidahkan kekuasaannya
dalam arti yang sebenarnya. Mengambil dalam arti berbuat sesuatu dengan
memindahkan kekuasaan atas sesuatu benda ke dalam kekuasaannya/ ke
tangannya menurut akal pikiran orang pada umumnya hanyalah dapat dilakukan
pada benda-benda berwjud dan bergerak saja. Aliran/energi dari sudut
pandang demikian bukanlah benda. Akan tetapi, untuk menjangkau keadilan,
Hoge Raad telah menggunakan analogi dengan memberi arti baru tentang
benda, yakni berupa sesuatu bagian dari kekayaan manusia. Dengan dasar
pengertian semacam itu, energi listrik dapat pula merupakan benda yang
menjadi objek pencurian. Energi listrik adalah bagian kekayaan, karena
mempunyai nilai ekonomis. Pemakaian energi itu harus membayar kepada
perusahaan si pemilik energi. Dengan alasan seperti itu, maka dapat
dimengerti bahwa kemudian pada sebagian ahli hukum memberi arti baru bahwa
benda merupakan sesuatu yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai bagi
manusia (Satochid Kartanegara, 172).
- Contoh lain : dalam sejarah praktik hukum, dengan menerapkan
analogi yang terkenal dan banyak dimuat dalam berbagai literatur hukum,
dalam arrest HR tanggal 23 Mei 1921 yang meganalogikan aliran/tenaga
listrik itu dengan pengertian benda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362
KUHP (pencurian). Pengertian benda dalam kejahatan ini menurut keterangan
dalam MvT mengenai pembentukan Pasal 310 WvS Belanda (362 KUHP kita)
terbatas pada benda-benda bergerak (roerent goed) dan benda-benda berwujud
(Stoffelijk goed).
3) Hukum pidana tidak
berlaku surut
- Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut, tepai berlaku ke
depan dapat disimpulkan dari kalimat yang menyatakan “…..ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada” (Pasal 1 ayat 1 KUHP)
- Yang artinya adalah ketika perbuatan itu dilakukan telah
berlaku aturan hukum pidana yg melarang melakukan perbuatan tsb. Disini
perlu ada kepastian hukum (rechtszekerheid).
- Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut, tetapi berlaku ke
depan dapat disimpulkan dari kalimay yg menyatakan “…..ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada” (Pasal 1 ayat 1 KUHP). Yang
artinya adalah ketika perbuatan itu dilakukan telah berlaku aturan hukum
pidana yang melarang melakukan perbuatan tsb. Disini perlu ada kepastian
hukum (rechtszekerheid).
- Selanjutnya pada Pasal 1 ayat 2 KUHP berbunyi “bilamana ada
perubahan dalam peraturan perUUan sesudah perbuatan dilakukan, maka
terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yg paling menguntungkan”.
(Disini mengandung keadilan)
- Pasal 1 ayat 2 KUHP ini (asas retroaktif) adalah pengecualian
pasal 1 ayat 1 KUHP (asas legalitas). Disini terjadi hukum boleh
diberlakukan surut (hukum diberlakukan kebelakang)
- Ada 3 syarat diberlakukannya hukum berlaku ke belakang/surut
menurut pasal 1 ayat 2 KUHP yaitu :
1) Harus ada perubahan
perUUan mengenai suatu perbuatan,
2) Perubahan tersebut
terjadi setelah perbuatan dilakukan, dan
3) Dimana peraturan
yangg baru itu lebih menguntungkan atau meringankan bagi pelaku perbuatan itu.
B. BATAS BERLAKUNYA HUKUM
PIDANA MENURUT TEMPAT DAN ORANG
- Batas diberlakunya hukum pidana menurut tempat diatur dalam
pasal 2,3,4,8,9 KUHP sedangkan batas berlakunya hukum pidana menurut orang
atau subjeknya diatur dalam pasal 5,6,7 KUHP.
- Mengenai berlakunya hukum pidana menurut tempat dan orang
dikenal ada 4 asas yaitu :
- Asas teritorialiteit (territorialiteits-beginsel) atau asas
wilayah negara
- Asas personaliteit (personaliteits beginsel) disebut juga
dengan asas kebangsaan, asas nationalitet aktif atau asas subjektif
(subjektions prinzip)
- Asas perlindungan (bescbermings beginsel) atau disebut juga
asas nasional pasif
- Asas universaliteit (universaliteits beginsel) atau asas
persamaan
Asas teritorialiteit :
- Adalah asas yang memberlakukan KUHP bagi semua orang yang
melakukan pidana di dalam lingkungan wilayah Indonesia. Asas ini dapat
dilihat dari ketentuan Pasal 2 dan 3 KUHP. Tetapi KUHP tidak berlaku bagi
mereka yang memiliki hak kebebasan diplomatik berdasarkan asas ”ekstrateritorial”.
- Asas teritorial ini diatur dalam pasal 2 yang berbunyi “aturan
pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku terhadap setiap orang
yang melakukan tindak pidana di dalam wilayah Inbdonesia”
- Disini siapapun yang melakukan tindak pidana di wilayah
Indonesia dapat dipidana sesuai hukum pidana yang berlaku di Indonesia
baik didarat, laut maupun udara.
- Wilayah laut 12 mil pulau terluar, kalau kurang dari 12 mil,
maka di pakai garis tengah selat (selat malaka) = UU No 4/Prp/1960 Pasal 1
ayat 2.
- Sedangkan tindak pidana di air dan udara diatur dalam pasal 3
dan UU no. 4 tahun 194, dimana disebutkan “ketentuan pidana
perudang-undangan Indonesia berlaku bagi setaip orang yang diluar
Indonesia melakukan tindak pidana di dalam kenderaan air atau pesawat
udara Indonesia
Asas Personaliteit :
- Adalah asas yang memberlakukan KUHP terhadap orang-orang
Indonesia yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Republik
Indonesia. Asas ini bertitik tolak pada orang yang melakukan perbuatan
pidana. Asas ini dinamakan juga asas personalitet.
- Asas ini terdapat dalam Pasal 5, 6, 7 dan 8 KUHP
- Pasal 5 ayat 1 berbunyi “Ketentuan pidana dalam Peraturan
perundang-undangan Indonesia berlaku terhadap warga negara yang diluar
Indonwesia melakukan :
- Salah satu kejahatan tersebut dlm Bab I dan II Buku Kedua dan
Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451 KUHP
- Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam
peraturan perundang-undangan pidana Indonesia dipandang sebagai kejahatan,
sedangkan menurut perundang-undangan negara dimana perbuatan dilakukan
diancam dengan pidana
- Pasal 5 ayat 2 berbunyi “Penuntutan perkara sebagaimana
dimaksud dalam butir 2 dapat dilakukan juga jika terdakwa menjadi warga
negara sesudah melakukan perbuatan.
- Bab I berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara
(104-129) dan Bab II adalah mengenai kejahatan terhadap martabat presiden
dan wakil presiden (130-139).
- Pasal 5 ayat 1 ke-1 KUHP hanya berlaku berkaitan dengan tindak
pidana yg terjadi kepada setiap warga negara RI yg melakukan diluar
Indonesia sebagaimana diancam dalam pasal-pasal tsb.
- Sedangkan pasal 5 ayat 1 ke-2 hanya berlaku berkaitan dengan
tindak pidana setiap warga negara RI yg melakukan diluar Indonesia namun
tindak pidana tsb harus berupa kejahatan bukan pelanggaran dan perbuatan
tindak pidana tsb oleh negara dimana perbauatan tsb dilakukan juga
merupakan perbuatan pidana yg dapat diancam.
- Sedangkan ayat 2 Pasal 5 berkaitan dengan apabila ada orang
asing melakukan tindak pidana diluar negeri setelah itu ia masuk warga
negara Indonesia. Maka dapat juga dituntut menurut ayat 2 ini.
- Selanjutnya dalam pasal 6 berbunyi “berlakunya pasal 5
ayat 1 ke 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana
mati, jiak menurut perundang-undangan negara dimana perbauatan dilakukan,
terhadapnya tidak diancam dengan pidana mati”.
- Selanjutnya dalam pasal 7 berbunyi “ketentuan pidana dalam
perUUan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat Indonesia yg diluar
Indonesia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan dalam
bab XXVIII buku kedua.
- Pasal 7 ini menerangkan khusus warga negara sebagai pejabat
Indonesia (PNS) yang melakukan perbuatan yg diancam salah satu bab XXVIII.
Artinya pasal ini tidak berlaku warga negara yg bukan pejabat.
- Selanjutnya dalam pasal 8 KUHP berbunyi “ketentuan pidana dalam
perundang-undangan Indonesia berlaku bagi nakhoda dan penumpang kenderaan
air Indonesia, yang diluar Indonesia, sekalipun diluar kenderaan air,
melakukan salah satu tindak pidana sbgmana dimaksudkan dlm bab XXIX buku
kedua, dan bab IX buku ketiga, begitu pula yg tersebut dlm peraturan
mengenai surat laut dan pas kapal Indonesia maupunn dalam ordonannsi
perkapalan (schepnordonantie, 1927).
- Bab XXIX buku kedua membahas tentang kejahatan-kejahatan
pelayaran (Pasal 438-479) sedangkan bab IX buku ketiga ttg pelanggaran
mengenai pelayaran (pasal 560-569)
Asas Perlindungan atau
Asas nasional Pasif
- Adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap siapapun
juga baik WNI maupun WNA yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah
Indonesia. Jadi yang diutamakan adalah keselamatan kepentingan suatu
negara.
- Asas ini bertumpu pada kepentingan bangsa dan negara bukan
kepentingan pribadi/individu diatur dalam pasal 4 KUHP
- Pasal 4 berbunyi “ketentuan pidana dalam peraturan
perundang-undangan Indonesia diterapkan terhadap setiap orang yang
melakukan di luar Indonesia yaitu salah satu kejahatan berdasarkan pasal
104, 106, 107, 108, 110 bis ke 1, 127 dan 131.
- Juga kejahatan mata uang kertas, materai, merek yang
dikeluarkan pemerintah Indonesia, dll
Asas Universaliteit :
- Asas ini berlaku untuk kepentingan penduduk dunia atau bangsa
dunia. Jadi bukan sekedar kepentingan bangsa Indonesia
- Diatur dalam pasal 4 ayat 2,3,4 KUHP, misalnya pasal 4 ayat 4
berkaiatan dengaan pembajakan di laut bebas (446) dan pembajakan udara
(479) dan penerbangan sipil, pemalsuan uang negara lain yang bukan uang
negara Indonesia
- Asas universaliteit adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP
terhadap perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Indonesia yang
bertujuan untuk merugikan kepentingan internasional. Peristiwa pidana yang
terjadi dapat berada di daerah yang tidak termasuk kedaulatan negara
manapun. Jadi yang diutamakan oleh asas tersebut adalah keselamatan
internasional.
BAB III
JENIS-JENIS PIDANA
- Menurut Pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana yaitu pidana pokok dan
pidana tambahan. Adapun pidana pokok sebagai berikut :
- Pidana mati
- Pidana penjara
- Pidana kurungan
- Pidana denda
- Sedangkan pidana tambahan adalah
- Pidana pencabutan hak-hak tertentu
- Pidana perampasan barang-barang tertentu
- Pidana pengumuman putusan hakim
- Selanjutnya ada juga pidana pokok menurut UU No. 20 tahun 1946
yaitu berupa pidana tutupan.
- Antara pidana pokok dan tambahan mempunyai perbedaan yaitu :
- Penjatuhan salah satu pidana pokok bersifat keharusan
(imperatif), sedangkan penjatuhan pidana tambahan sifatnya fakultatif
Penjelasan :
Apabila dalam persidangan tindak
pidana yg didakwakan oleh jaksa penuntut umum menurut hakim telah terbukti
secara sah dan meyakinkan hakim harus menjatuhkan satu jenis pidana pokok
sesuai dengan jenis dan batas maksimum khusus yg diancamkan pada tindak pidana
yg bersangkutan.
Menjatuhkan salah satu jenis
pidana pokok sesuai dengan yang diancamkan pada tindak pidana yang dianggap
terbukti adalah suatu keharusan artinya imperatif.
2. Penjatuhan jenis pidana pokok
tidak harus bersamaan dengan menjatuhkan pidana tambahan (berdiri sendiri),
sedangkan menjatuhkan pidana tambahan tidak diperbolehkan tanpa dengan
menjatuhkan pidana pokok.
Penjelasan :
Sesuai dengan namanya pidana
tambahan, penjatuhan pidana tambahan tidak dapat berdiri sendiri, lepas dari
pidana pokok melainkan hanya dapat dijatuhkan oleh hakim apabila dalam suatu
putusannya itu telah menjatuhkan salah satu jenis pidana pokok sesuai dengan yg
diancamkan pada tindak pidana yang bersangkutan. Artinya jenis pidana tambahan
tidak dapat dijatuhkan sendiri secara terpisah dengan jenis pidana pokok,
melainkan bersama dengan jenis pidana pokok.
Dalam hal ini telah jelas bahwa
pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan kecuali setelah adanya penjatuhan pidana
pokok, artinya pidana pokok dapat berdiri sendiri sedangkan pidana tambahan
tidak dapat berdiri sendiri.
Walaupun jenis pidana tambahan
mempunyai sifat yg demikian, ada juga pengecualiannya, yakni dimana jenis
pidana tambahan itu dapat dijatuhkan tidak bersama jenis pidana pokok tetapi
bersama tindakan (maatregelen) seperti pasal 39 ayat 3 dan 40.
3. Jenis pidana pokok yag
dijatuhkan bila telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde
zaak) diperlukan suatu tindakan pelaksanaan (executie)
Penjelasannya :
Pengecualiaannya adalah apabila
pidana yg dijatuhkan itu adalah jenis pidana pokok dengan bersyarat (Pasal 14a)
dan syarat yang ditetapkan dalam putusan itu tidak dilanggar. Hal ini berbeda
dengan sebagian jenis pidana tambahan misalnya pidana pencabutan hak-hak2
tertentu sudah berlaku sejak putusan hakim telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(pasal 38 ayat 2). Ole karena itu, berjalannya/dijalankannya putusan
antara jenis pidana pokok dengan pidana pencabutan hak tertentu
berdasarkan pasal 38 ayat 2 tidak sama.
- Selain itu juga ada prinsip dasar pidana pokok yaitu tidak
dapat dijatuhkan secara kumulasi (menjatuhkan 2 pidana pokok secara
bersamaan).
- Hal ini dapat dilihat sbgmana tercantum dalam buku II
(kejahatan) dan buku III (pelanggaran) dimana dijelaskan bahwa :
- Dalam rumusan tindak pidana hanya diancam dengan satu jenis
pidana pokok saja.
- Dalam beberapa rumusan tindak pidana yg diancam dgn lebih dari
satu jenis pidana pokok ditetapkan sbg bersifat alternatif (misal pasal
340, 362 dll) dengan menggunakan kata atau.
- Prinsip dasar jenis pidana pokok ini hanya berlaku pada tindak
pidana umum (KUHP). Bagi tindak pidana khusus (diluar KUHP), prinsip dasar
ini ada penyimpangan seperti UU No 7 (drt) 1955 (UU tindak pidana
ekonomi), UU No. 31 tahun 1999 (UU tindak pidana korupsi), UU Narkotika
(UU No. 22 tahun 1997), UU Perbankan (UU No. 10 tahun 1998), dll
- Pidana mati (Pasal 11 KUHP)
- Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan
lagi.
- Di Indonesia sejak tahun 1918 masi diberlakukan pidana mati.
- RUU KUHP 1992 dan 1999/2000 revisi masih dicantumkan tapi bukan
dalam pidana pokok, hanya dikategorikan pidana yang bersifat khusus dan selalu
bersifat altertnatif.
- Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan
lagi.
- Di Indonesia sejak tahun 1918 sampai sekarang masih
diberlakukan pidana mati.
- Penjatuhan pidana mati dalam KUHP hanya diatur dalam bentuk
kejahatan berat saja, misalnya :
- Kejahatan-kejahatan yang mengancam keamanan negara (Pasal 104,
111 ayat 2, 124 ayat 3 jo 129)
- Kejahatan-kejahatan pembunuhan terhadap orang tertentu dan atau
dilakukan dengan faktor-faktor pemberat, misalnya 140 ayat 3, 340
KUHP
- Kejahatan terhadap harta benda yg disertai unsur/faktor yg
sangat memberatkan (365 ayat 4, 368 ayat 2)
- Kejahatan-kejahatan pembajakan laut, sungai dan pantai (Pasal
444)
- Adanya pidana mati oleh pembentuk KUHP dalam penerapan harus
hati-hati, tidak boleh gegabah karena pidana mati berkaitan dengan
hilangnya nyawa manusia.
- Untuk itu dalam KUHP pasal pidana mati selalu dibuat alternatif
dengan penjara seumur hidup, pidana 20 tahun, misalnya pasal 365 (4), 340,
104, 368 (2) jo 365 (4), dll sedangkan diluar KUHP pidana mati diatur
dalam UU 26 tahun 1999 (subversi), UU 22 tahun 1997 (Narkotika, 80, 81,
82), Pasal 59 UU No 5 tahun 1997 (Psikotropika).
- Eksekusi pidana mati dulu dengan cara digantung (Pasal 11 KUP)
telah dihapuskan diganti dengan cara ditembak oleh regu penembak sampai
mati (UU No. 2 (PNPS) tahun 1964.
- Pidana penjara (Pasal 12 – 17 KUHP)
- Berdasarkan pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana hilang kemerdekaan
bergerak yakni pidana penjara dan kurungan.
- Dari sifatnya menghilangkan dan atau membatasi kemerdekaan
bergerak, dalam arti menempatkan terpidana dalam suatu tempat (Lembaga
Permasyarakatan) dimana terpidana tidak bebas untuk keluar masuk dan
didalamnya wajib untuk tunduk, mentaati dan menjalankan semaua peraturan
tata tertib yang berlaku.
- Selintas antara pidana penjara dan kurungan sama namun ada
perbedaan yang cukup jauh
- Perbedaan yang paling menonjol adalah pidana kurungan lebih
ringan dari pidana penjara. Lebih ringannya sebagai berikut :
- Ancaman pidana kurungan hanya terhadap tindak pidana yg ringan
sedangkan ancaman pidana penjara terhadap tindak pidana yg lebih berat.
Pidana kurungan hanya terhadap tindak pidana pelanggaran sedangkan pidana
penjara terhadap tindak pidana kejahatan.
- Ancamam maksimum pidana penjara 15 tahun sedangkan pidana
kurungan 1 tahun kecuali residivis ditambah tidak lebih dari 4 bulan lagi.
Pidana penjara bisa ditambah menjadi 20 tahun apabila perbuatan tersebut
memberatkan (pembarengan pasal 65) dan residivis.
- Pidana penjara lebih berat daripada pidana kurungan (Pasal 69
KUHP).
- Pelaksanaan pidana denda tidak dapat diganti dengan pelaksanaan
pidana penjara. Akan tetapi pelaksanaan pidana denda dapat diganti dengan
pelaksanaan kurungan disebut kurungan pengganti (Pasal 30 ayat 2).
- Pelaksanaan pidana penjara dapat saja dilakukan di Lembaga
permasyarakatan di seluruh Indonesia (dapat dipindahkan), sedangkan pidana
kurungan dilaksanakan hanya di LAPAS dimana vonis hakim
dibacakan/berdasarkan tempat kediaman terdakwa (tidak dapat dipindah),
atau apabila ia tidak mempunyai tempat kediaman, pidana kurungan dilaksanakan
dimana tempat ia ada pada waktu itu, kecuali ia memohon untuk menjalani
pidana ditempat lain dan menteri kehakiman mengijinkannya. (Pasal 21 KUHP)
- Pekerjaan-pekerjaan yang diwajibkan pada narapidapidana penjara
lebih berat dari pekerjaan2 yang diwajibkan pada narapidana kurungan
(Pasal 19 KUHP)
- Narapidana kurungan dengan biaya sendiri dapat sekedar
meringankan nasibnya dalam menjalankan pidananya menurut aturan yang
ditetapkan (hak pistole, pasal 23 KUHP)
Pidana penjara ada bersifat seumur
hidup dan pidana penjara sementara.
Pidana seumur hidup adalah pidana
yang harus dijalani terpidana selama-lamanya didalam penjara sampai dengan ia
meninggal dunia di penjara tersebut.
Sedangkan pidana sementara adalah
pidana yang dijalani terpidana paling sedikit 1 hari dan paling lama 15 tahun
atau 20 tahun jika perbuatan pidana yang dilakukan dengan pemberatan.
- Pidana kurungan (18 – 29 KUHP)
- Pidana kurungan ada suatu pidana yang dijatuhkan oleh hakim
kepada terdakwa karena telah melakukan tindak pidana pelanggaran
- Pidana kurungan dijatuhkan serendah-rendahnya 1 hari dan paling
lama 1 tahun dan dapat ditambah lagi 4 bulan apabila terdakwa
seorang residivis.
- Menurut Pasal 23 KUHP “Orang yg dipidana kurungan boleh
memperbaiki nasibnya dengan ongkosnya sendiri menurut peraturan yg akan
ditetapkan dalam ordonansinya (LN 1917 No. 708 = peraturan kepenjaraan,
khususnya psl 93)
- Perbaikan nasib dengan ongkos sendiri ini biasa dinamakan hak
pistole. Perbaikan tsb misalnya mengenai makanan dan tempat tidurnya.
Candu, minuman keras, anggur dan bir hanya dapat diberikan bila dianggap
perlu oleh dokter penjara.
D. Pidana denda
- Penerapan pidana denda paling sedikit 25 sen (Pasal 30 ayat 1
KUHP) sedangkan maksimum tergantung pada rumusan pidana, misalnya pasal
403 maksimum Rp. 150.000
- Apabila tidak dibayar dendanya diganti dengan hukuman kurungan
(ayat 2)
- Lamanya hukuman kurungan pengganti paling sedikit 1 hari paling
lama 6 bulan. Dalam keadaan memberatkan dapat ditambah paling tinggi 8
bulan (Pasal 30 ayat 5, 6 KUHP)
- Pidana denda diterapkan pada pelanggaran sedangkan pada
kejahatan dijadikan alternatif (misalnya kata-kata ’atau’)
Keistimewaan pidana denda :
- Pidana denda dapat dibayarkan oleh orang lain, sedangkan pidana
lainnya (misalnya penjara) tidak.
- Pelaksanaan pidana denda dapat diganti dengan pidana kurungan
(Pasal 30 ayat 2 KUHP), maka sering dalam putusan hakim membuat pidana
alternatif selain kurungan juga ada pidana kurungan pengganti. Dalam hal
ini terpidana bebas memilihnya dan lamanya pidana kurungan pengganti adalah
minimal 1 hari maksimal 6 bulan.
- Penerapan pidana denda paling sedikit 25 sen (Pasal 30 ayat 1
KUHP) sedangkan maksimum tergantung pada rumusan pidana, misalnya pasal
403 maksimum Rp. 150.00,-
Mengapa terhadap pidana
denda perlu adanya jaminan penggantinya ?
- Karena dalam pelaksanaan pidana denda tidak dapat dijalankan
denagan paksaan secara langsung seperti penyitaan atas barang-barang
terpidana. Ini berbeda dengan perkara perdata yg dilakukan pelelangan
setelah disita pengadilan.
Kapan denda harus dibayar ?
- Yaitu jika divonis pidana denda, maka paling alama 1 bulan
terpida harus mebayar denda tsb kecuali acara cepat harus seketika
dilunasi (misalnya perkara lalu-lintas). Sementara dapat diperpanjang lagi
1 bualn apabila ada alasan kuat (Pasal 273 ayat 1 dan 2 KUHP).
- Pidana denda dibayarkan menjadi kas negara. Untuk itu setelah
kejaksaan menerima harus segera di setor ke kas negara.
- E. Pidana Tutupan
- Diatur dalam Pasal 2 ayat 1 UU No. 20 tahun 1946 yang
menyatakan bahwa dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan, yang
diancam dengan pidana penjara karena karena terdorong oleh maksud yang
patut dihormati, hakim boleh menjatuhkan pidana tutupan.
- Selanjutnya pada ayat 1 dinyatakan pidana tutupan tidak
dijatuhkan apabila perbuatan yang merupakan kejahatan itu cara melakukan
perbuatan itu aatau akibat dari perbuatan itu adalah sedemikian rupa
sehingga hakim berpendapat bahwa pidana penjara lebih tepat.
- Tempat untuk menjalani pidana tutupan adalah rumah tutupan (PP
No. 8 tahun 1948).
- Rumah tutupan lebih baik dengan rumah tahanan dari segi
fasilitasnya, misalnya maalah makanan.
- Pidana tutupan sama juga dengan pidana penjara hanya beda dari
fasilitasnya.
- Jadi orang yang menjalani pidana tutupan adalah perbuatan
pidana yang terdorong oleh maksud yang patut dihormati, kriterianya
diserahkan kepada hakim.
- Dalam praktek pidana tutupan hanya terjadi 1 kali saja yaitu
putusan Mahkamah Agung Tentara RI tanggal 17 Mei 1948 yaitu perkaa
kejahatan peristiwa 3 Juli 1946.
F. Pidana Pencabutan Hak-Hak
Tertentu
- Pasal 35 ayat 1 KUHP mengatur tentang pidana pencabutan hak-hak
tertentu :
- Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu
(jabatan publik, seperti Bupati, dll).
- Hak menjalankan jabatan dalam Angkatan bersenjata / TNI
- Hak memilih dan dipilih yg diadakan berdasarkan aturan2 umum
- Hak menjadi penasihat hukum atau pengurus atas penetapan
pengadilan, hak menjadi wali, wali pengawas, pengampu atau pengampu
pengawas atas anak yang bukan anak sendiri
- Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau
pengampuan atas anak sendiri.
- Hak menjalankan mata pencaharian
- Pasal tindak pidana yg mengaturnya adalah pasal 317, 318, 334,
347, 348, 350, 362, 363, 365, 372, 374, 375.
- Sifat hak-hak tertentu yang dapat dicabut oleh hakim, tidak
untuk selama-lamanya melainkan dalam waktu tertentu saja, kecuali yang
bersangkutan dijatuhi pidana seumur hidup atau pidana mati.
Lama waktu hakim menjatuhkan
pencabutan hak-hak tertentu (Pasal 38 KUHP) :
- Bila pidana pokok yg dijatuhkan hakim berupa pidana mati atau
seumur hidup maka lamanya pencabutan hak2 tertentu berlaku seumur hidup
- Bila pidana pokok yg dijatuhkan hakim berupa pidana penjara
sementara atau kurungan, maka lamanya pencabutan hak2 tertentu paling lama
5 tahun dan minimun 2 tahun lebih lama daripada pidana pokoknya
- Jika pidana pokok yg dijatuhkan adalah pidana denda maka
pencabutan hak2 tertentu adalah paling sedikit 2 tahun dan paling lama 5
tahun.
G. Perampasan Barang-Barang
Tertentu
- Perampasan barang sebagai suatu pidana hanya diperkenankan atas
barang-barang tertentu saja, tidak diperkenankan untuk semua barang. UU
tidak mengenal perampasan untuk semua kekayaan seperti dalam kasus
perdata.
- Pasal 39 KUHP berbunyi , “Barang kepunyaan terhukum yang
diperoleh dengan kejahatan atau dengan sengaja dipakai akan melakukan
kejahatan akan dirampas ”, misalnya uang palsu diperoleh dengan kejhatan,
golok, senjata api, dll. Jika bukan milik terhukum tidak boleh dirampas.
- Ada 2 jenis barang yang dapat dirampas melalui putusan hakim
pidana yaitu :
1. Barang-barang yang
berasal/diperoleh dari suatu kejahatan (bukan dari pelanggaran) yang disebut
dengan Corpora Delictie misalnya uang palsu dari kejahatan pemalsuan
uang.
2. Barang-barang yang
digunakan dalam melakukan kejahatan yang disebut dengan instrumenta
delictie misalnya pisau yang digunakan dalam kejahatan
- Ada tiga prinsip dasar dari pidana perampasan barang tertentu
yaitu :
- Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan terhadap 2 jenis barang
tersebut dalam Pasal 39 itu saja.
- Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan oleh hakim pada kejahatan
saja, dan tidak pada pelanggaran, kecuali pada beberapa tindak pidana
pelanggaran, misalnya Pasal 502, 519, 549 (jenis pelanggaran)
- Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan oleh hakim atas
barang-barang milik terpidana tadi. Kecuali ada beberapa ketentuan
a) Yang
menyatakan secara tegas terhadap barang yang bukan milik terpidana (Pasal 250
bis),
b) Tidak secara
tegas menyebutkan terhadap, baik barang milik terpidanaatau bukan (misalnya
pasal 275, 205, 519)
H. Pengumuman Putusan Hakim
- Pidana pengumuman putusan hakim hanaya dapat dijatuhkan dalam
hal-hal yang telah ditentukan oleh UU, misalnya terdapat dalam Pasal 128,
206, 361, 377, 395, 405.
- Dalam pidana ini hakim bebas perihal cara melaksanakan
pengumuman, misalnya melalui surat kabar, papan pengumuman, radio,
televisi dan pembebanan biayanya ditanggung terpidana.
- Pasal 43 KUHP, “Dalam hal-hal yang hakim memerintahkan
mengumumkan keputusannya menurut kitab UU umum yg lain, ditentukjannya
pula cara bagaimana menjalankan perintah itu atas ongkos siterhukum”,
misalnya melalui surat kabar dengan ongkos terhukum.
- Maksud pidana ini adalah sebagai usaha preventif agar tidak
melakukan perbuatan seperti orang tersebut dan agar berhati-hati bergaul
dengan orang tersebut (terhukum).
I. Penjatuhan Pidana
Bersyarat (voorwaardelijke veroordeling)
- Istilah penjatuhan pidana besyarat bukanlah jenis pidana
sebagaimana diatur dalam Pasal 10 KUHP, karena istilah ini diatur dalam
pasal 14a KUHP. Lebih tepat istilah ini adalah pidana dengan bersyarat.
- Pidana dengan bersyarat dalam praktek hukum sering disebut
dengan pidana percobaan.
- Pidana percobaan/bersyarat adalah suatu sistem/model penjatuhan
pidana oleh hakim yang pelaksanaannya digantungkan pada syarat-syarat
tertentu.
- Artinya pidana yang dijatuhkan oleh hakim itu ditetapkan tidak
perlu dijalankan pada terpidana selama syarat-syarat yang ditentukan tidak
dilanggarnya dan pidana dapat dijalankan apabila syarat-syarat yang
ditetapkan itu tidak ditaatinya atau dilanggar. Misalnya jika terpidana
tersebut yang diminta hakim tidak boleh melakukan perbuatan perbuatan
pidana maka selama masa poercobaan tersebut terpidana tidak boleh
melakukan perbuatan pidana dalam bentuk apapun. Jika terbukti melakukan
perbuatan pidana lagi maka hukumannya bisa ditambah karena terdakwa
seorang residivis.
- Mamfaat penjatuhan pidana dengan bersyarat adalah memperbaiki
penjahat tanpa harus memasukkannya ke dalam penjara artinya tanpa membuat
derita bagi dirinya dan keluarganya, mengingat pergaulan dalam penjara
terbukti sering membawa pengaruh buruk bagi seorang terpidana terutama
bagi orang-orang yang melakukan tindak pidana karena dorongan faktor
tertentu yang ia tidak mempunyai kemampuan untuk menguasai dirinya dalam
arti bukanpenjahat sesungguhnya. Misalnya karena kemelaratan dan untuk
makan ia mencuri sebungkus roti, karena butuh uang untuk mengobati orang
tuanya yang luka karena kecelakaan, kejahatan culpa (kelalaian), dll
Dalam pasal 14a KUHP ditentukan
bahwa hakim dapat menetapkan pidana dengan bersyarat dalam putusan pemidanaan
apabila :
- Hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama satu tahun
- Hakim menjatuhkan pidana kurungan (bukan kurungan pengganti
denda maupun kurungan pengganti perampasan barang)
Hakim menjatuhkan pidana denda,
dengan ketentuan yaitu : a). Apabila benar-benar ternyata pembayaran denda atau
perampasan barang yang ditetapkan dalam keputusan itu menimbulkan keberatan
yang sangat bagi terpidana, dan b). Apabila pelaku tindak pidana yang dijatuhi
denda bersyarat itu bukan berupa pelanggaran yang berhubungan dengan pendapatan
negara.